Home » 2009 » October

Monthly Archives: October 2009

Penerimaan Guru dan Dosen Diperketat

Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) bakal memperketat penerimaan guru di sekolah dan dosen di perguruan tinggi.

Hal itu seiring dilaksanakannya pendidikan profesi guru. Sekretaris Jenderal (Sekjen) Depdiknas Dodi Nandika mengatakan, nantinya, semua guru harus mengantongi sertifikat pendidik baru diperbolehkan mengajar. Dengan demikian, sekolah maupun PT tak boleh menerima guru dan dosen sembarangan. “Sesuai dengan Undangundang (UU) No.14/2005 tentang Guru dan Dosen,syarat guru boleh mengajar bila sudah berkualifikasi S1. Sedangkan, untuk dosen minimal berkualifikasi S2.Ramburambu itu mulai kita sosialisasikan,” katanya di Jakarta kemarin.

Saat ini dalam kenyataannya, lanjut dia, masih banyak dosen yang belum berkualifikasi S2. Demikian pula sekitar 1 juta lebih guru belum berkualifikasi S1. ”Karena itu, kami terus sekolahkan para guru dan dosen. Kemudian, dengan adanya pendidikan profesi, sekolah tak boleh merekrut lagi guru ijazah sekolah menengah atas (SMA),” ujar Dodi. Lebih lanjut Dodi menjelaskan, guru merupakan sebuah profesi layaknya dokter maupun akuntan. Karena itu, berkualifikasi S1 saja tidak cukup. Harus mengambil pendidikan profesi.”Karena itu, harus ada pendidikan profesi.

Sarjana ditambah profesi, baru boleh mengajar,” jelasnya. Tahun ini,kata dia,pendidikan profesi sudah dimulai untuk guru Sekolah Dasar (SD). Pendidikan tersebut berlangsung enam bulan. Pengumuman kelulusan bakal dilakukan akhir bulan ini. Sosialisasi terhadap program itu terus dilakukan. Sebab, belum semua calon guru di daerah mengetahui program tersebut. Tahun depan, terang Dodi, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Depdiknas bakal menambah jumlah lembaga pendidik tenaga kependidikan (LPTK) sebagai penyelenggara program tersebut.

Direktur Ketenagaan Ditjen Dikti Depdiknas Muchlas Samani mengatakan, saat ini pihaknya sedang memverifikasi hasil pendidikan profesi guru SD. ”Kami sedang evaluasi pelaksanaan pendidikan tersebut selama enam bulan,” ungkapnya. Jangan sampai, kata Muchlas, lulusan pendidikan profesi tidak berkualitas. ”Karena pendidikan ini pertama, maka kualitas lulusannya harus benar-benar dijaga,” ujarnya. Saat ini, kata Muchlas, Dikti sudah mendata nantinya lulusan pendidikan profesi itu akan ditempatkan di mana saja.

”Kami harus menyesuaikan kebutuhan di sekolah atau daerah. Jangan sampai masalah ini tidak

diatur dan nasib mereka nggakjelas setelah ikut pendidikan profesi,” jelasnya. Dengan demikian, begitu mereka lulus pendidikan profesi langsung ditempatkan untuk mengajar.

http://diknas.go.id