Two- Tier Multiple-Choice Test & Higher-Order Thinking

Oleh Dr. Rukayah,M.Hum dan Dra. Jenny Indrastoerti P M.Pd

Two- Tier Multiple-Choice Test adalah salah satu bentuk tes yang sedang digunakan sebagai solusi dari kelemehan yang dimiliki Tipe soal pilihan ganda dan tentunya untuk mengakselarasi sistem penilaian yang berbasis pada Higher Order Thingking Skills. Higher-order thinking termasuk menunjukkan pemahaman akan informasi dan bernalar bukan sekedar mengingat kembali/recall informasi. Higher order thinking tidak berarti soal yang lebih sulit daripada soal recall. Ada beberapa cara yang dapat dijadikan pedoman oleh para penulis soal untuk menulis butir soal yang menuntut berpikir tingkat tinggi, yakni materi yang akan ditanyakan diukur dengan perilaku sesuai dengan ranah kognitif Bloom pada level analisis, evaluasi dan mengkreasi, setiap pertanyaan diberikan dasar pertanyaan (stimulus) dan soal mengukur kemampuan berpikir kritis.

Higher-Order Thinking Skills
Menganalisis
Menggunakan keterampilan yang telah dipelajarinya terhadap suatu informasi yang belum diketahuinya dalam mengelompokkan informasi, menentukan keterhubungan antara satu kelompok/informasi atau menguraikan suatu materi menjadi komponen-komponen yang lebih jelas.

Contoh
Kemampuan mengelompokkan benda berdasarkan persamaan dan perbedaan ciri- cirinya, memberi nama bagi kelompok tersebut, menentukan apakah satu kelompok sejajar/lebih tinggi/lebih luas dari yang lain, menentukan mana yang lebih dulu dan mana yang belakangan muncul, menentukan mana yang memberikan pengaruh dan mana yang menerima pengaruh, menemukan keterkaitan antara fakta dengan kesimpulan, menentukan konsistensi antara apa yang dikemukakan di bagian awal dengan bagian berikutnya, menemukan pikiran pokok penulis/pembicara/ nara sumber, menemukan kesamaan dalam alur berpikir antara satu karya dengan karya lainnya, dan sebagainya
Mengevaluasi
Kemampuan menilai suatu benda atau informasi berdasarkan suatu kriteria(menilai suatu ide, kreasi, cara, atau metode).
Contoh
Kemampuan menilai apakah informasi yang diberikan berguna, apakah suatu informasi/benda menarik/ menyenangkan bagi dirinya, adakah penyimpangan dari kriteria suatu pekerjaan/keputusan/peraturan, memberikan pertimbangan alternatif mana yang harus dipilih berdasarkan kriteria, menilai benar/salah/bagus/jelek dan sebagainya suatu hasil kerja berdasarkan kriteria.

Mencipta
Membuat sesuatu yang baru dari apa yang sudah ada sehingga hasil tersebut merupakan satu kesatuan utuh dan berbeda dari komponen yang digunakan untuk membentuknya

Contoh
Kemampuan membuat suatu cerita/tulisan dari berbagai sumber yang dibacanya, membuat suatu benda dari bahan yang tersedia, mengembangkan fungsi baru dari suatu benda, mengembangkan berbagai bentuk kreativitas lainnya.

Menilai atau mengukur bukan sekadar untuk menghafal sejumlah informasi, namun lebih kepada bagaimana memproses sejumlah informasi untuk mendapatkan solusi dari permasalahan yang diajukkan. Menilai atau mengukur keterampilan yang lebih kompleks seperti berpikir kritis dan merangsang siswa untuk mengintrepretasikan, menganalisa atau bahkan mampu memanipulasi informasi sebelumnya sehingga tidak monoton. Higher-order thinking menunjukkan pemahaman terhadap informasi dan bernalar (reasoning) bukan hanya sekedar mengingat informasi. Kita tidak menguji ingatan, sehingga kadang-kadang perlu untuk menyediakan informasi yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan dan siswa menunjukkan pemahaman terhadap gagasan dan informasi dan/atau memanipulasi atau menggunakan informasi tersebut.
Teknik kegiatan-kegiatan lain yang dapat mengembangkan keterampilan berfikir kritis dan kreatif siswa dalam bentuk menjawab pertanyaan-pertanyaan inovatif:
Adakah Cara lain? (What’s another way?),
Bagaimana jika…? (What if …?),
Manakah yang salah? (What’s wrong?), dan
Apakah yang akan dilakukan? (What would you do?) (Krulik & Rudnick, 1999)

Agar butir soal yang ditulis dapat menuntut berpikir tingkat tinggi, maka setiap butir soal selalu diberikan dasar pertanyaan (stimulus) berbentuk sumber/bahan bacaan seperti: teks bacaan, paragrap, teks drama, penggalan novel/cerita/dongeng, puisi, kasus, gambar, grafik, foto, rumus, tabel, daftar kata/symbol, contoh, peta, film, atau suara yang direkam dianalisis, dievaluasi, dan dikreasikan

Posted in Kolom Pendidikan | Comments Off on Two- Tier Multiple-Choice Test & Higher-Order Thinking

Subject Spesific Paedagogic Berbasis HOTs

Karya Siti Istiyati,M.Pd dan Drs. Kartono, M.Pd

Pencapaian hasil pembelajaran yang optimal dan terbentuk siswa yang aktif, kreatif, inovatif, mampu berpikir tingkat tinggi serta memecahkan masalah membutuhkan guru yang kreatif dan inovatif yang selalu mempunyai keinginan untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu proses belajar mengajar di kelas, karena dengan peningkatkan mutu proses belajar mengajar di kelas, mutu pendidikan dapat ditingkatkan. Oleh karena itu, upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu proses belajar mengajar harus selalu dilakukan.
Jika hasil belajar siswa rendah maka akan berakibat langsung pada kualitas pendidikan di Indonesia. Berdasarkan Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan, guru memiliki peran yang strategis dalam bidang pendidikan, jika guru-guru yang berkualitas dan profesional kurang maka peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia sulit untuk terwujud dengan kata lain, guru merupakan ujung tombak dalam upaya peningkatan kualitas layanan dan hasil pendidikan. Untuk itu peningkatan kualitas pendidikan harus dilakukan melalui upaya peningkatan kualitas kompetensi paedagogik dan profesionalisme guru.
Sadar akan kualitas pembelajaran di Indonesia yang belum dapat memfasilitasi kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS) para siswa, maka banyak upaya telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk melakukan perbaikan. Upaya-upaya tersebut di antaranya melakukan perubahan atau revisi kurikulum secara berkesinambungan, program kemitraan antara sekolah dengan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), proyek peningkatan kualifikasi guru, dan masih banyak program lain yang dilakukan untuk perbaikan hasil pendidikan tersebut.
Terkait dengan konteks pendidikan yang mengarah pada berbagai ide tentang reformasi yang dikaitkan dengan strategi yang mendukung proses berpikir tingkat tinggi menempati porsi yang substansial untuk diajarkan di kelas. Hal ini dikarenakan Higher Order Thingking Skill (HOTS) merupakan pondasi dalam pembelajaran sesuai hakikatnya, yakni proses (process), produk (products) dan sikap (attitudes). Dengan demikian, sesuai hakikatnya pembelajaran idealnya mengacu pada kegiatan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik dapat memberdayakan potensi berpikir mereka secara maksimal. Melalui pembelajaran yang berbasis berpikir tingkat tinggi (HOTS) diharapkan siswa menjadi lebih kritis, kreatif, inovatif dan mampu memecahkan masalah sesuai dengan tuntutan abad 21.

Untuk mengatasi belum maksimalnya pembelajaran yang dilakukan guru, perlu dilakukan kegiatan yang mampu memfasilitasi guru melakukan kajian terhadap perangkat pembelajaran (subject spesific paedagogik) yang terdiri dari rencana pembelajaran, media, materi, lembar kerja siswa dan instrumen penilaian apakah sudah memfasilitasi HOTS para siswa? pemaduan prinsip HOTS dalam menyusunan subject spesific paedagogik (SSP) yang sesuai dengan kurikulum 2013 dapat dilakukan melalui kegiatan workshop. SSP merupakan perangkat pembelajaran lengkap yang terdiri dari rencana pembelajaran (RPP), materi pembelajaran, media pembelajaran, lembar kerja siswa atau kelompok, dan instrumen penilaian.
Upaya-upaya telah dilakukan secara intensif, tetapi pengemasan pendidikan sering tidak sejalan dengan hakikat belajar dan pembelajaran. Praktik-praktik pembelajaran hanya dapat diubah melalui identifikasi terhadap cara-cara guru belajar dan mengajar serta menganalisis dampaknya terhadap perolehan belajar siswa. Agar hal ini terjadi, sekolah perlu menciptakan suatu proses yang mampu memfasilitasi para guru untuk melakukan kajian terhadap materi pembelajaran, model dan metode pembelajaran, serta strategi-strategi mengajar secara sistematis, sehingga dapat memfasilitasi siswa untuk meningkatkan perolehan belajar.
Program-program atau model-model pengembangan profesionalisme guru membutuhkan fasilitas yang dapat memberi peluang kepada mereka learning how to learn dan to learn about teaching. Model pembinaan yang dapat mengembangkan dan meningkatkan profesionalisme pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegialitas dan mutual learning untuk membangun learning community dikenal dengan Lesson study (LS). LS dilaksanakan dalam tiga tahapan, yaitu merencanakan (plan), melaksanakan (do), dan merefleksi (see) secara terus menerus dan berkelanjutan. Implementasi lesson study secara berkelanjutan membantu guru mempercepat peningkatan kompetensi paedagogik dan profesionalismenya. Saat ini di sekolah dasar menggunakan kurikulum 2013 yang berbasis tematik dengan mengedepankan pendekatan scientific dan adapula SD yang masih menggunakan kurikulum KTSP. Meskipun demikian, guru-guru SD dituntut untuk segera menyelaraskan dan meningkatkan kemampuan profesionalismenya dalam mengajar terutama mengimplementasikan pembelajaran yang dapat memfasilitasi berpikir tingkat tinggi siswanya. Melalui kegiatan LS diharapkan guru-guru yang sudah mengikuti pelatihan implementasi kurikulum 2013 dan guru yang sudah mengikuti pelatihan tentang implementasi pembelajaran berbasis HOTS yang diselenggarakan oleh LPPM, Dinas Pendidikan serta lembaga yang berkonsentrasi dalam meningkatkan profesionalisme guru seperti USAID Prioritas diharapkan dapat melakukan pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegialitas kepada guru-guru yang lain melalui kegiatan LS.
Indikator-indikator peningkatan profesionalisme guru melalui pelaksanaan lesson study dapat dilakukan melalui pengembangan perangkat pembelajaran (SSP) yang mengimplementasikan pembelajaran HOTS. LS terdiri dari siklus plan-do-see yang memungkinkan guru untuk dapat mengembangkan pemikiran kritis dan kreatif tentang belajar dan pembelajaran, proses sharing pengalaman berbasis pengamatan pembelajaran memberi peluang bagi guru untuk mengembangkan keterbukaan dan peningkatan kompetensi sosialnya, dan proses-proses refleksi secara berkelanjutan merupakan suatu proses bagi guru untuk meningkatkan kesadaran akan keterbatasan dirinya.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan pada tanggal 24 Januari 2018 pada 2 orang kepala sekolah (SD Negeri Mangkubumen Kulon 83 Surakarta dan SD Negeri Purwotomo Surakarta) diperoleh hasil bahwa pengetahuan dan kemampuan guru untuk menyusun subject spesific paedagogik (SSP) atau perangkat pembelajaran yang memfasilitasi berpikir tingkat tinggi bagi siswanya masih rendah. Dari 40 orang guru yang di 2 sekolah tersebut hanya 2 orang guru (5,7%) yang sudah mendapatkan pelatihan tentang pembelajaran berbasis HOTS, 12 (34,3%) orang sudah mengetahui namun belum pernah mengimplementasikan dan 23 (65,7%) orang guru yang masih belum mengetahui, belum pernah mengikuti pelatihan/workshop apalagi mengimplementasikan pembelajaran berbasis HOTS.
Agar proses penyelarasan kemampuan tentang pembelajaran tematik pada semua guru mitra dapat berlangsung dengan cepat, maka diperlukan suatu model pembinaan antar teman sejawat melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegialitas untuk berkolaborasi dan merancang lesson (pembelajaran) dan mengevaluasi kesuksesan strategi-strategi mengajar yang telah diterapkan antara guru yang sudah memahami pembelajaran yang memfasilitasi HOTS dengan guru yang masih kurang sebagai upaya meningkatkan proses dan perolehan belajar siswa.
Lesson Study (LS) merupakan salah satu strategi pengembangan profesi guru dengan prinsip mengembangkan pembelajaran secara bersama-sama, salah seorang guru ditugasi melaksanakan pembelajaran, guru lainnya mengamati belajar siswa. Proses ini dilaksanakan selama pembelajaran berlangsung. Pada akhir kegiatan, guru-guru berkumpul dan melakukan tanya jawab tentang pembelajaran yang dilakukan, merevisi dan menyusun pembelajaran berikutnya berdasarkan hasil diskusi.
Permasalahan rendahnya kemampuan guru tersebut harus segera diatasi, karena begitu pentingnya keterampilan guru dalam menyampaikan materi ajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum. Berdasarkan Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan guru memiliki peran yang strategis dalam bidang pendidikan, jika guru-guru yang berkualitas dan profesional kurang maka peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia sulit untuk terwujud. Guru merupakan ujung tombak dalam upaya peningkatan kualitas layanan dan hasil pendidikan, untuk itu peningkatan kualitas pendidikan harus dilakukan melalui upaya peningkatan kompetensi paedagogik dan profesionalisme guru.
Namun kenyataannya menunjukkan bahwa belum semua guru di SD Mitra yang memahami, mengerti dan melaksanakan pembelajaran yang memfasilitasi HOTS dan berbasis kurikulum 2013. Hal ini antara lain disebabkan karena belum semua guru dapat mengikuti pelatihan implementasi kurikulum 2013. Menyikapi kurikulum yang baru ini, guru-guru SD dituntut untuk segera menyelaraskan dan meningkatkan kemampuan profesionalismenya dalam mengajar. Melalui kegiatan LS diharapkan guru-guru yang sudah mengikuti pelatihan implementasi kurikulum 2013 dan pernah mengikuti pelatihan model pembelajaran berbasis HOTS dibantu tim IPM dan sudah mengetahui, memahami, serta melaksanakan pembelajaran di kelasnya dapat melakukan pembinaan melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas kepada guru-guru yang lain melalui kegiatan LS.
Berbagai upaya telah dilakukan pihak sekolah guna meningkatkan pemahaman dan kemampuan guru tentang pembelajaran yang memfasilitasi HOTS yang sesuai dengan kurikulum 2013 guna menyiapkan siswa di abad 21, diantaranya dengan mengirimkan guru-guru untuk mengikuti pelatihan dan mendatangkan narasumber. Namun berbagai upaya yang telah dilakukan pihak sekolah belum menampakkan hasil yang optimal, hal ini dikarenakan pelatihan-pelatihan yang diberikan belum menyentuh pada kegiatan praktik langsung (mengimplementasikan) atau melihat contoh pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran berorientasi HOTS dan berbasis kurikulum 2013 secara langsung (guru model) sehingga guru-guru akan lebih jelas dan mengerti. Upaya lain yang dirasa dapat meningkatkan kompetensi guru bidang profisional dan paedagogil yaitu dengan menggabungkan workshop penyusunan perangkat pembelajaran (SSP) hingga mengimplementasikannya di kelas melalui kegiatan LS.

Posted in Kolom Pendidikan | Comments Off on Subject Spesific Paedagogic Berbasis HOTs

DONGENG DAN SEKOLAH DASAR

Pendidikan Karakter merupakan orientasi pendidikan Indonesia saat ini, terlebih dengan adanya penerapan kebijakan Kurikulum 2013 yang menekankan pada pentingnya pembentukan dan penguatan karakter. Urgensi karakter menurut Lickona Lickona (1992) mengemukakan beberapa alasan tentang perlunya pendidikan karakter bagi peserta didik, yaitu: (a) karakter merupakan hal yang sangat esesnsial dalam berbangsa dan bernegara; (b) karakter berperan sebagai kendali dan kekuatan sehingga bangsa ini tidak mudah terombang ambing; dan (c) karakter tidak datang dengan sendirinya, tetapi harus dibangun dan dibentuk untuk menjadi bangsa yang bermartabat. Pembelajaran yang ada saat ini harus menekankan pada bagaiamana cara atau metode yang digunakan oleh guru mengarah kepada pembentukan karakter siswa. Salah satu metode yang dapat digunakan dalam membentuk karakter adalah Dongeng.
Dongeng merupakan kisah yang disampaikan dengan cara bercerita. Menurut (Nurgiantoro, 2005:198) pengertian dongeng adalah cerita yang tidak benar-benar terjadi dan dalam banyak hal sering tidak masuk akal. Dongeng biasanya disampaikan dan dibacakan oleh guru TK, SD, mulai kelas 1-3 SD, antara umur 5-10 tahun. Selain itu dongeng juga diceritakan para orang tua disaat menemani anak-anaknya menjelang tidur. Anak-anak sangat suka ketika guru dan orang tua mereka mendongeng, apalagi dongeng pengantar tidur. Imajinasi seorang anak berkembang ketika mendengarkan sebuah dongeng. Anak-anak membayangkan tokoh, tempat, dan peristiwa yang dikisahkan. Hal ini cukup efektif, karena anak mampu menyerap dengan mudah gambaran tentang baik dan buruknya sesuatu hal melalui isi sebuah dongeng.
Kisah dongeng membawa pendengarnya terhanyut ke dalam dunia fantasi. Imajinasi dan fantasi adalah sebuah proses kejiwaan yang sangat penting. Rasa ingin tahu ini sangat penting bagi perkembangan intelektual anak. Penyampaian pesan moral dapat dilakukan melalui nilai-nilai positif melalui isi dongeng, biasanya lebih didengarkan anak. Karena anak senang medengarkannya, maka secara otomatis pesan-pesan yang kita selipkan kemudian didengarkan anak dengan senang hati. Namun terdapat beberapa hal yang harus dilakukan oleh guru agar siswa tetap memiliki ketertarikan terhadap dongeng yang disampaikan. Menurut Lustantini (1998: 16) penyebab ketertarikan audience pada dongeng tidak terlepas dari empat unsur penting dongeng yaitu:(1) Alur, (2) Tokoh, (3) Latar, (4) Tema. Oleh karenanya guru harus memiliki kemampuan untuk mengakomodir dongeng diintegrasikan di dalam materi pembelajaran.
Dongeng dapat dinikmati beberapa kalangan, mulai dari anak-anak, remaja, dan orang dewasa. Pesan moral yang disampaikan dalam dongeng biasanya merupakan petunjuk bertingkah laku di masyarakat, ajaran baik dan buruk, tidak boleh ombong dan durhaka, bermakna dan penuh surf tauladan, dan berbagai kegembiraan, kebahagiaan, kesedihan, kemalangan, dan derita. Melalui pesan moral juga dapat melatih perasan emosi, menghayati berbagai lakon dikehidupan manusia dan dapat berperan dalam proses pembentukan watak seorang anak. (Sudarmadji, dkk. 1992:4).
Dongeng merupakan suatu kisah yang diangkat dari “cerita tidak nyata atau pemikiran fiktif’ menjadi suatu alur perjalanan hidup. Di dalam dongeng terkandung pesan moral yang mengajarkan makna hidup dan cara berinteraksi dengan makhluk lainnya. Dongeng juga merupakan dunia hayalan dan imajinasi dari pemikiran seseorang yang kemudian diceritakan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Dongeng memiliki beragam jenis, antara lain mitos, legenda, sage dan fable. Dongeng dapat merangsang siswa untuk kreatif karena yang dijangkau dari metode ini adalah alam imajinasi siswa sehingga memberikan sebuah pembelajaran yang bermakna bagi siswa. Siswa lebih mudah menerima apa yang disampaiakn guru ketika guru menggunakan metode ini. Serta siswa kan terhindar dari rasa jenuh dan bosan saat mengikuti pembelajaran.
Dongeng yang diberikan kepada siswa sebaiknya adalah dongeng yang berakar dari kearifan lokal yang dimiliki oleh Indonesia atau biasa disebut sebagai dongeng Asli Nusantara. Bahasa yang lebih sederhana adalah menggunakan cerita rakyat sebagai basic dari pembauatan materi ajar dongeng yang digunakan. Cerita rakyat merupakan salah satu dari sekian banyak ragam tradisi lisan di Indonesia. Cerita rakyat bagi masyarakat Indonesia berperan penting bagi kehidupannya. Melalui cerita rakyat, masyarakat merasa hidup aman, tenteram dan damai karena fungsi salah satu cerita rakyat itu adalah menjadikan mereka merasa bersaudara, karena mereka yakin bahwa mereka berasal dari nenek moyang yang sama.
Cerita rakyat sangat besar pengaruhnya terhadap masyarakatnya, karena mampu menjadi pedoman hidup bagi masyarakatnya, itu juga berlaku pada cerita rakyat masyarakat di Indonesia dan cerita rakyat merupakan tradisi lisan, Indonesia adalah negara yang kaya akan nilai – nilai budaya dan kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun temurun. Tradisi lisan mengungkapkan kejadian atau peristiwa yang mengandung nilai moral, keagamaan, adat istiadat, fantasi, peribahasa, nyanyian dan mantra. Cerita rakyat yang sarat nilai – nilai moral dan kearifan lokal yang bisa menjadi sarana komunikasi untuk mengajarkan nilai- nilai tentang kehidupan kepada anak-anak.
Kolabarasi antara Dongeng dengan memanfaatkan cerita rakyat sebagai akar atau ide cerita dapat disebut sebagai Dongeng Asli Nusantara. Dengan memanfaatkan metode mempengarahui penerimaan siswa dalam belajar terlebih Dongeng Asli Nusantara ini di basiskan dengan Story Based Learning.
Dongeng termasuk salah satu metode di dalam pembelajaran yang menjadikan pembelajaran menarik karena adannya interaksi antara siswa dengan guru dan juga dongeng dapat membawa siswa seakan-akan larut dal cerita yang disampaikan oleh karenanya pada hakikatnya dongeng sebagai teknik dalam pemebalajran menempati posisi yang cukup penting sebagai salah satu komponen sistem pembelajaran. Pengembangan materi dongeng berbasisis Story Based Learning yang didukung kemampuan guru dalam mengeksplorasi dongeng memberikan dampak yang signifikan terhadap kualitas dari pembelajaran.
Optimalisasi penggunaan dongeng berbasis SBL yang disertai dengan pengembangan materinya berbahan dasar cerita rakyat dalam kegiatan pembelajaran yang diyakini dapat meningkatkan mutu pendidikan. Salah satu manfaat dengan menggunakan dongengn berbasis SBL adalah pesan yang disampaikan oleh pendidik dapat lebih mudah dimengerti atau dipahami oleh peserta didik serta secara psikologis siswa tidak merasa terbebani. Inilah peran yang harus diberikan guru dalam pembelajaran, Doyle sebagaimana dikutip oleh Danim (2002:1) mengemukakan dua peran guru dalam pembelajaran yaitu menentukan keteraturan (estabilishing order) dan memfasilitasi proses belajar (facilitating learning), yang dimaksud keteraturan disini mencakup hal-hal yang terkait langsung atau tidak langsung dengan proses pembelajaran, seperti : tata letak tempat duduk, disiplin peserta didik di kelas, interaksi peserta didik dengan sesamanya, interaksi peserta didik dengan guru, jam masuk dan keluar untuk sesi mata pelajaran, pengelolaan sumber belajar, pengelolaan bahan belajar, prosedur dan sistem yang mendukung proses pembelajaran, lingkungan belajar dan lain-lain.

Workshop penyusunan materi Dongeng Berbasis SBL dengan mengedepankan cerita rakyat sebagai bahan dasar pembuatan materi dapat menginternalisasikan nilai-nilai luhu budaya bangsa dan tentunya membuata suasana pebelajaran yang menarik, tidak monoton, tetapi tidak kehilangan esensi dari tujuan pembelajaran. Dongeng Berbasis SBL dapat menunjang kreatifitas guru dan siswa serta dapat mengemas pembelajaran sesuai dengan Kurikulum 2013. Pemanfaatan Cerita Rakyat Asli Nusantara dalam pembuatan materi Dongeng berbasis SBL menjadi MATERI ajar membutuhkan kreatifitas dan keinginan para pendidik untuk mencari, menemukan dan mengembangkannya. Disinilah dibutuhkan kreatifitas guru dan siswa untuk menciptakan materi dongeng berbasis SBL yang lebih kreatif dan inovatif namun tidak kehilangan esensi dari konsep kurikulum yang ada. Materi Dongeng yang disusun dapat digunakan untuk membantu siswa dalam memahami materi pelajaran tidaklah harus yang panjang atau luas, tetapi c u k u p m a t e r i d o n g e n g y a n g d i g u n a k a n s e s u a i d e n g a n t u j u a n d a n k a r a k t e r i s t i k p e m b e l a j a r a n s e r t a t e t a p m e n j a g a e s e n s i p e m b e l a j a r a n .
Cerita Rakyat Asli Nusantara yang selama ini di dideskreditkan karena dianggap ketinggalan zaman, tidak up to date, dan sulit untuk diintegrasikan di dalam pelaksanaan pembelajaran teratasi dengan menggunakan penyusunan materi yang sesuai dengan cerita rakyat yang ada, serta dapat menginternalisasikan nilai-nilai luhur budaya di dalam pelaksanaan pembelajaran. Karena pada hakikatnya Cerita Rakyat merupakan warisan yang diberikan secara turun-temurun, sebagaimana disampaikan oleh Suripan Sadi Hutomo (1991: 4) Dahulu, cerita rakyat diwariskan secara turun- menurun dari satu generasi ke generasi berikutnya secara lisan.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada tanggal 10 Januari s.d. 14 Februari 2018 pada 2 orang kepala sekolah (SD Negeri Dukuhan Kerten dan SD N Purwotomo diperoleh hasil bahwa pengetahuan dan kemampuan guru untuk membuat materi ajar dengan menggunakan materi dongeng nusantara masih terhitung rendah, terutama kontek Kurikulum Tematik masih rendah. Dari total guru yang ada di kedua SD mitra sebanyak 35 orang, hanya 2 orang guru atau sekitar (5,71%) yang sudah memanfaatkan cerita rakyat atau dongeng dalam arti luas sebagai materi ajar dalam pembelajaran tematik, 2 orang atau sekitar (5,71%) guru telah sedikit bercerita tetapi belum kontekstual dalam proses pembelajarannya, namun sisanya sekitar 31 guru belum menggunakan dongeng sebagai materi ataupun metode di dalam pembelajarananya.
Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala sekolah, diperoleh hasil bahwa guru-guru mengalami kesulitan untuk menyusun dongenng yang sesuai dengan materi ajar dalm konteks pembelajaran Tematik. Hal ini dikarenakan guru belum mengetahui dan memahami konsep dasar tentang dongeng.
Peran metode atau dapat dikatakan materi dongeng berbasis story based learning adalah untuk melancarkan kegiatan pembelajaran dan mewujudkan pemebaljaran yang bermakna yang mampu untuk mengimnternalisasikan karakter di dalam pelaksanaan pembelajaran, sehingga dibutuhkan workshop yang dapat membantu mempermudah guru untuk memberikan pembelajaran yang inovatif disertai dengan kemasan pembelajaran yang menyenangkan dan menghibur namun tetap tidak kehilangan esensi dari materi ajar. Berdasarkan hasil observasi pendahuluan yang dilakukan pada beberapa SD mitra tersebut diperoleh hasil bahwa kemampuan guru untuk menyusun materi ajar dongeng menjadi materi ajar yang sesuai dengan konten masalah dari pembelajaran untuk dijadikan materi dongeng asli nusantara berbasis Story based learning masih rendah sehingga sangat mendesak dilakukan pemberian informasi dan pelatihan pada guru-guru tersebut.

Posted in Kolom Pendidikan | Comments Off on DONGENG DAN SEKOLAH DASAR

KEBUTUHAN BUKU PENGHUBUNG DAN WORKSHEET BERBASIS KURIKULUM 2013

Karya :Sri Marmuah, Soegiyanto, Idam Ragil Widianto Atmojo, Roy Ardiansyah
Kompetensi Guru merupakan indikator seorang guru profesional, kompetensi yang dimaksudkan Menurut Syaiful Sagala (2009: 209) kompetensi merupakan kelayakan untuk menjalankan tugas, kemampuan sebagai faktor penting bagi guru, oleh karena itu kualitas dan produktivitas kerja guru harus mampu memperlihatkan perbuatan profesional yang bermutu. Adapun kompetensi guru (teacher competency) is the ability of a teacher to responsibility perform his or her duties appropriately. Kompetensi guru merupakan kemampuan seseorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban secara bertanggung jawab dan layak (Usman, 2002). Terdapat empat kompetensi guru yang harus diimiliki oleh guru yakni Kompetensi Pedagogik, Komptensi Profesional, Kompetensi Sosial, dan Kompetensi Personal.Keempat kompetensi ini memiliki urgensi dalam pelaksaaan proses pendidikan atau pembelajaran, yakni kompetensi pedagogik akan berpengaruh terhadap kesiapan guru dalam mengajar, komptensi profesional akan berpengaruh kepada kemampuan guru mengalikasikan ilmu, kompetensi sosial berpengaruh kepada kemampuan guru untuk menjalin komunikasi dengan lingkungan siswa atau sekolah, dan kompetensi personal akan berpengaruh terhadap refleksi kepribadian guru di dalam melaksanakan pembelajaran.Pembelajaran yang dimaksud adalah pembelajaran merupakan suatu proses yang sistematis melalui tahap rancangan, pelaksanaan, dan evaluasi (Knirk dan Gustafson, 1986:15).Kegiatan Perancangan, pelaksanaan, dan evaluasi harus dikuatkan dengan kompetensi yang mumpuni yang dimiliki oleh guru.
Permasalahan yang timbul pada beberapa waktu terkahir adalah tentang komunikasi guru dengan orang tua siswa terkait dengan perkembangan belajar siswa di sekolah ataupu dirumah, sehingga terjadi miskomunikasi antara guru dengan siswa sehingga terjadi perbendaan pendapat atau bahkan sampai terjadi aksi-aksi kurang terpuji yang dilakukan orang tua atau bahkan siswa kepada guru, seperti kasus guru Budi di Madura yang harus kehilangan nyawa di tangan murid, dan kejadian pemukulan Kepala Sekolah di salah satu daerah oleh orang tua siswa yang tidak terima anaknya ditegur. Permasalahan yang lain yang menjadi problematika bagu guru adalah soal sumber belajar. Dari sumber anggaran yang terbatas, larangan menggunakan Lembar Kerja Siswa, larangan untuk menarik uang dari siswa padahal di sisi lain guru membutuhkan alat bantu sumber belajar untuk memfasilitasi siswa dalam pelaksanaan proses pembelajaran yang memiliki kualitas, salah satunya adalah pengadaan worksheet. Oleh karena banyaknya larangan yang tidak memungkinkan untuk menggarkan alat bantu ini maka guru diharuskan membuat secara mandiri worksheet yang dibutuhkan.
Solusi yang dapat diberikan adalah dengan mengadakan pelatihan penyusunan Connection Book sebagai solusi untuk membuat komunikasi orang tua dengan guru menjadi lancar tentang perkembangan siswa di sekolah ataupun dirumah, sehingga kejadian miskomunikasi yang menimbulkan hal-hal yang kurang berkenan bisa diminmalisir. Komunikasi menjadi faktor penting dalam pelaksnaan pembelajaran. Komunikasi merupakan tindakan melaksanakan kontak antara pengirim dan penerima, dengan bantuan pesan; pengirim dan penerima memiliki beberapa pengalaman bersama yang memberi arti pada pesan dan simbol yang dikirim oleh pengirim, dan diterima serta ditafsirkan oleh penerima. (Suranto : 2005). Dalam pembelajaran komunikasi yang terjadi harus efektif, Santoso Sastropoetro (Riyono Pratikno : 1987) berkomunkasi efektif berarti bahwa komunikator dan komunikan sama-sama memiliki pengertian yang sama tentang suatu pesan, atau sering disebut dengan “the communication is in tune”.
Solusi yang berikutnya adalah pendampingan kepada guru untuk menyusun Worksheet Mandiri sesuai dengan Kurikulum 2013 yang berbasis pada pembelajaran Tematik, sehingga dengan kolaborasi dari pihak akademisi dalam hal ini UNS maka akan mampu mendatangkan motivasi tersendiri bagi guru serta diiringi adanya peningkatan kemampuan dan kemauan dalam menyusun Worksheet mandiri sesuai dengan Kurikulum 2013.
Solusi ini bukanlah dua hal yang berbeda, melainkan satu kesatuan karena terikat dengan dua kompetensi yang ada yakni kompetensi sosial dan kompetensi profesional. Kompetensi Sosial dan Profesional memiliki hubungan kausal yang berarti sebab akibat, yakni ketika kemampuan guru dalam menjalin komunikasi dengan orang tua baik maka secara tidak langsung partisipasi orang tua di dalam pembelajaran akan baik yang akan berdampak pada kemampuan guru untuk meningkatkan kemampuan profesional karena mendapatkan dukungan penuh dari orang tua, ataupun sebaliknya.
Connection Book dan Worksheet memberikan dapak yang positif terhadap pelaksanaan pembelajaran. Manfaat dari Connection Book yakni berdasarkan hasil wawancara terhadap guru yang telah menggunakan (uji materi di SD yang bukan mitra pengabdian) adalah (1) Connection Book mampu membuat guru berkomunikasi langsung dengan orang tua siswa melalui siswa, sehingga ketiga komponen pembelajaran terlibat aktif di dalamnya, (2) memebrikan dampak kepada pemahaman orang tua terhadap pembelajaran yang diberikan di sekolah atau memberikan pemahaman kepada guru tentang aktivitas siswa di rumah, (3) Guru menjadi lebih paham tentang hamabatan dan keluhan orang tua ketika mendidik siswa dirumah. Selain Connection Book, Worksheet Mandiri yang diberikan kepada guru juga memberikan dampak yang positif, hal ini berdasarkan hasil wawancara setelah uji coba (di SD yang bukan mitra pengabdian) yakni (1) guru merasa lebih mendapatkan kepercayaan diri, dan (2) guru menjadi lebih mudah mengajarkan materi kepada siswa karena worksheet yang disusun hasil mandiri.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada tanggal 20 Januari s.d. 14 Februari 2018 pada 2 orang kepala sekolah (SD Negeri Dukuhan Kerten dan SD N Purwotomo diperoleh hasil bahwa pengetahuan dan kemampuan guru untuk menyusun Connection Book dan Worksheet sesuai dengan kontek Kurikulum Tematik masih rendah. Dari total guru yang ada di kedua SD mitra sebanyak 35 orang, hanya 2 orang guru atau sekitar (5,71%) yang sudah memanfaatkan connection book dan worksheet mandiri walapupun ini belum sesuai dengan konsep yang akan diberikan tetapi upaya ke arah sana sama, namun sisanya sekitar 33 guru belum menggunakan di dalam pembelajarananya. Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala sekolah, diperoleh hasil bahwa guru- guru mengalami kesulitan untuk menyusun Connection Book dan Worksheet di dalam pembelajaran Tematik. Hal ini dikarenakan guru belum mengetahui dan memahami konsep dasar tentang urgensi dari Connection Book dan Worksheet Mandiri.
Peran keberadaan connection book dan worksheet mandiri dalam pembelajaran adalah untuk melancarkan kegiatan pembelajaran serta menyamakan persepsi anatara orang tua dan guru tentang perkembangan pengetahuan siswa di dalam pelaksanaan pembelajaran, sehingga dibutuhkan workshop yang dapat membantu mempermudah guru untuk memberikan materi penyusunan connention book dan worksheet mandiri sesuai kurikulum 2013 namun tetap tidak kehilangan esensi dari materi ajar. Berdasarkan hasil observasi pendahuluan yang dilakukan pada beberapa SD mitra tersebut diperoleh hasil bahwa kemampuan guru untuk menyusun Connection Book dan Worksheet mandiri masih rendah sehingga sangat mendesak dilakukan pemberian informasi dan pelatihan pada guru-guru tersebut..

Posted in Kolom Pendidikan | Comments Off on KEBUTUHAN BUKU PENGHUBUNG DAN WORKSHEET BERBASIS KURIKULUM 2013