MY TRIP MY EDUCATION

My Trip My Education atau MTME adalah salah satu kegiatan dari program studi PGSD FKIP UNS yang memiliki tujuan yakni untuk membiasakan mahasiswa calon guru lebih mengenal dan mampu mengembangkan bahan pembelajaran secara kontekstual dan up to date serta berbasis pada lingkungan sekitar. Kegiatan ini telah dilaksanakan selama 4x yakni yang pertama PGSD UNS GOES TO SANGIRAN MUSEUM AND GAJAH MUNGKUR RESERVOIR,

pada kegiatan MTME #2 dilaksanakan di Kota Jogja dengan Tema PGSD UNS GOES TO JOGJAKARTA dengan Tujuan Tebing Breksi, Gunung Api Purba, Puncak Becici,

lalu pada Event MTME #3 dilaksanakan dengan TEMA PGSD UNS MLAKU-MLAKU NYANG SEMARANG dengan tujuan kajian Goa Kreo, Museum Ronggowarsito, Lawang Sewu dan Masjid Agung,

dan pada tahun 2019 dilaksanakan MTME#4 dengan tema PGSD UNS NGANGSU KAWRUH NYANG NGAYOGJAKARTA dengan Objek Balai Besar Pengolahakan Kulit, Karet, dan Plastik, lalu Goa Pindul, Sungai Oyo, dan dikahiri dengan Tebing breksi.

Melihat manfaat yang begitu besar maka kegiatan ini akan diteruskan dengan berbagai inovasi dalam pelaksanaannya tanpa menghilangkan esensi.

PGSD UNS JAYA mewujudkan Pendidikan yang Berkeadaban karena kami belajar, peduli, dan bermanfaat

Posted in Agenda Prodi, Kegiatan Mahasiswa | Comments Off on MY TRIP MY EDUCATION

Merancang Pembelajaran IPA Berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) di Sekolah Dasar

Oleh: Dra. Siti Istiyati, M.Pd., dan Dr. Peduk Rintayati, M.Pd.

Implementasi Kurikulum 2013 bertujuan untuk membekali peserta didik menghadapi abad 21. Ketrampilan-keterampilan abad 21 yang diperlukan oleh peserta didik antara lain kreativitas, critical thinking/problem solving, communication, dan collaboration. Keterampilan-keterampilan tersebut dapat dicapai jika siswa mendapatkan kesempatan untuk aktif dalam pembelajaran. Pembelajaran perlu adanya penugasan dan latihan pemecahan masalah dan menstimulasi kemampuan berpikir tingkat tinggi atau higher order thinking skills (HOTS) (Jumaryati, 2016; Afandi & Sajidan, 2017), termasuk implementasinya dalam pembelajaran IPA.
Pendidikan IPA di SD memiliki pernanan penting karena implikasinya dalam kehidupan di lingkungan sehari-hari sangat dekat dengan manusia. Objek dan fenomena alam yang dikaji dalam pembelajaran IPA ini sulit untuk dipisahkan dari keterampilan berpikir. Mempelajari objek dan fenomena alam dapat dipahami melalui proses berpikir kritis tingkat tinggi (HOTS), yakni cara berpikir yang diharapkan menciptakan, melalui proses evaluasi, dan analisis (Mulyadi dkk, 2010). Kurikulum 2013 telah mengadopsi taksonomi Bloom yang direvisi Anderson dimulai dari level mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi dan mencipta, sehingga siswa dalam belajar IPA harus terus dilatih untuk penemuan (Desstya, 2015).
Pembelajaran IPA di SD yang berbasis dimensi pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognisi idealnya didesain dengan pembelajaran yang menekankan pada pemberian pengalaman langsung dengan tugas-tugas pembelajaran IPA yang berkategori HOTS. HOTS dapat dipelajari dan diajarkan pada siswa melalui tugas-tugas pemecahan masalah yang melibatkan analisis kasus dan bereksperimen sains (Thomas & Thorne, 2009). Tugas-tugas kegiatan belajar mengajar perlu diterapkan dalam proses pembelajaran berorientasi HOTS dengan disesuaikan pada karakteristik perkembangan berpikir siswa SD, kurikulum, dan disesuaikan dengan hakikat IPA sebagai produk, proses, dan sikap ilmiah.
Beberapa hal yang dipertimbangkan dalam merancang pembelajaran IPA berbasis HOTS antara lain: melakukan analisis kurikulum dan silabus SD kelas atas; analisis kompetensi dasar IPA SD kelas atas; pengkajian materi IPA SD kelas atas; pengkajian KIT dan media yang tersedia sebagai sumber belajar IPA berkategori HOTS; rancangan desain pengembangan perangkat pembelajaran, dan implementasi produk tugas-tugas pembelajaran IPA berkategori HOTS.

Posted in Kolom Pendidikan | Comments Off on Merancang Pembelajaran IPA Berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) di Sekolah Dasar

Two- Tier Multiple-Choice Test & Higher-Order Thinking

Oleh Dr. Rukayah,M.Hum dan Dra. Jenny Indrastoerti P M.Pd

Two- Tier Multiple-Choice Test adalah salah satu bentuk tes yang sedang digunakan sebagai solusi dari kelemehan yang dimiliki Tipe soal pilihan ganda dan tentunya untuk mengakselarasi sistem penilaian yang berbasis pada Higher Order Thingking Skills. Higher-order thinking termasuk menunjukkan pemahaman akan informasi dan bernalar bukan sekedar mengingat kembali/recall informasi. Higher order thinking tidak berarti soal yang lebih sulit daripada soal recall. Ada beberapa cara yang dapat dijadikan pedoman oleh para penulis soal untuk menulis butir soal yang menuntut berpikir tingkat tinggi, yakni materi yang akan ditanyakan diukur dengan perilaku sesuai dengan ranah kognitif Bloom pada level analisis, evaluasi dan mengkreasi, setiap pertanyaan diberikan dasar pertanyaan (stimulus) dan soal mengukur kemampuan berpikir kritis.

Higher-Order Thinking Skills
Menganalisis
Menggunakan keterampilan yang telah dipelajarinya terhadap suatu informasi yang belum diketahuinya dalam mengelompokkan informasi, menentukan keterhubungan antara satu kelompok/informasi atau menguraikan suatu materi menjadi komponen-komponen yang lebih jelas.

Contoh
Kemampuan mengelompokkan benda berdasarkan persamaan dan perbedaan ciri- cirinya, memberi nama bagi kelompok tersebut, menentukan apakah satu kelompok sejajar/lebih tinggi/lebih luas dari yang lain, menentukan mana yang lebih dulu dan mana yang belakangan muncul, menentukan mana yang memberikan pengaruh dan mana yang menerima pengaruh, menemukan keterkaitan antara fakta dengan kesimpulan, menentukan konsistensi antara apa yang dikemukakan di bagian awal dengan bagian berikutnya, menemukan pikiran pokok penulis/pembicara/ nara sumber, menemukan kesamaan dalam alur berpikir antara satu karya dengan karya lainnya, dan sebagainya
Mengevaluasi
Kemampuan menilai suatu benda atau informasi berdasarkan suatu kriteria(menilai suatu ide, kreasi, cara, atau metode).
Contoh
Kemampuan menilai apakah informasi yang diberikan berguna, apakah suatu informasi/benda menarik/ menyenangkan bagi dirinya, adakah penyimpangan dari kriteria suatu pekerjaan/keputusan/peraturan, memberikan pertimbangan alternatif mana yang harus dipilih berdasarkan kriteria, menilai benar/salah/bagus/jelek dan sebagainya suatu hasil kerja berdasarkan kriteria.

Mencipta
Membuat sesuatu yang baru dari apa yang sudah ada sehingga hasil tersebut merupakan satu kesatuan utuh dan berbeda dari komponen yang digunakan untuk membentuknya

Contoh
Kemampuan membuat suatu cerita/tulisan dari berbagai sumber yang dibacanya, membuat suatu benda dari bahan yang tersedia, mengembangkan fungsi baru dari suatu benda, mengembangkan berbagai bentuk kreativitas lainnya.

Menilai atau mengukur bukan sekadar untuk menghafal sejumlah informasi, namun lebih kepada bagaimana memproses sejumlah informasi untuk mendapatkan solusi dari permasalahan yang diajukkan. Menilai atau mengukur keterampilan yang lebih kompleks seperti berpikir kritis dan merangsang siswa untuk mengintrepretasikan, menganalisa atau bahkan mampu memanipulasi informasi sebelumnya sehingga tidak monoton. Higher-order thinking menunjukkan pemahaman terhadap informasi dan bernalar (reasoning) bukan hanya sekedar mengingat informasi. Kita tidak menguji ingatan, sehingga kadang-kadang perlu untuk menyediakan informasi yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan dan siswa menunjukkan pemahaman terhadap gagasan dan informasi dan/atau memanipulasi atau menggunakan informasi tersebut.
Teknik kegiatan-kegiatan lain yang dapat mengembangkan keterampilan berfikir kritis dan kreatif siswa dalam bentuk menjawab pertanyaan-pertanyaan inovatif:
Adakah Cara lain? (What’s another way?),
Bagaimana jika…? (What if …?),
Manakah yang salah? (What’s wrong?), dan
Apakah yang akan dilakukan? (What would you do?) (Krulik & Rudnick, 1999)

Agar butir soal yang ditulis dapat menuntut berpikir tingkat tinggi, maka setiap butir soal selalu diberikan dasar pertanyaan (stimulus) berbentuk sumber/bahan bacaan seperti: teks bacaan, paragrap, teks drama, penggalan novel/cerita/dongeng, puisi, kasus, gambar, grafik, foto, rumus, tabel, daftar kata/symbol, contoh, peta, film, atau suara yang direkam dianalisis, dievaluasi, dan dikreasikan

Posted in Kolom Pendidikan | Comments Off on Two- Tier Multiple-Choice Test & Higher-Order Thinking

Subject Spesific Paedagogic Berbasis HOTs

Karya Siti Istiyati,M.Pd dan Drs. Kartono, M.Pd

Pencapaian hasil pembelajaran yang optimal dan terbentuk siswa yang aktif, kreatif, inovatif, mampu berpikir tingkat tinggi serta memecahkan masalah membutuhkan guru yang kreatif dan inovatif yang selalu mempunyai keinginan untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu proses belajar mengajar di kelas, karena dengan peningkatkan mutu proses belajar mengajar di kelas, mutu pendidikan dapat ditingkatkan. Oleh karena itu, upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu proses belajar mengajar harus selalu dilakukan.
Jika hasil belajar siswa rendah maka akan berakibat langsung pada kualitas pendidikan di Indonesia. Berdasarkan Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan, guru memiliki peran yang strategis dalam bidang pendidikan, jika guru-guru yang berkualitas dan profesional kurang maka peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia sulit untuk terwujud dengan kata lain, guru merupakan ujung tombak dalam upaya peningkatan kualitas layanan dan hasil pendidikan. Untuk itu peningkatan kualitas pendidikan harus dilakukan melalui upaya peningkatan kualitas kompetensi paedagogik dan profesionalisme guru.
Sadar akan kualitas pembelajaran di Indonesia yang belum dapat memfasilitasi kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS) para siswa, maka banyak upaya telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk melakukan perbaikan. Upaya-upaya tersebut di antaranya melakukan perubahan atau revisi kurikulum secara berkesinambungan, program kemitraan antara sekolah dengan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), proyek peningkatan kualifikasi guru, dan masih banyak program lain yang dilakukan untuk perbaikan hasil pendidikan tersebut.
Terkait dengan konteks pendidikan yang mengarah pada berbagai ide tentang reformasi yang dikaitkan dengan strategi yang mendukung proses berpikir tingkat tinggi menempati porsi yang substansial untuk diajarkan di kelas. Hal ini dikarenakan Higher Order Thingking Skill (HOTS) merupakan pondasi dalam pembelajaran sesuai hakikatnya, yakni proses (process), produk (products) dan sikap (attitudes). Dengan demikian, sesuai hakikatnya pembelajaran idealnya mengacu pada kegiatan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik dapat memberdayakan potensi berpikir mereka secara maksimal. Melalui pembelajaran yang berbasis berpikir tingkat tinggi (HOTS) diharapkan siswa menjadi lebih kritis, kreatif, inovatif dan mampu memecahkan masalah sesuai dengan tuntutan abad 21.

Untuk mengatasi belum maksimalnya pembelajaran yang dilakukan guru, perlu dilakukan kegiatan yang mampu memfasilitasi guru melakukan kajian terhadap perangkat pembelajaran (subject spesific paedagogik) yang terdiri dari rencana pembelajaran, media, materi, lembar kerja siswa dan instrumen penilaian apakah sudah memfasilitasi HOTS para siswa? pemaduan prinsip HOTS dalam menyusunan subject spesific paedagogik (SSP) yang sesuai dengan kurikulum 2013 dapat dilakukan melalui kegiatan workshop. SSP merupakan perangkat pembelajaran lengkap yang terdiri dari rencana pembelajaran (RPP), materi pembelajaran, media pembelajaran, lembar kerja siswa atau kelompok, dan instrumen penilaian.
Upaya-upaya telah dilakukan secara intensif, tetapi pengemasan pendidikan sering tidak sejalan dengan hakikat belajar dan pembelajaran. Praktik-praktik pembelajaran hanya dapat diubah melalui identifikasi terhadap cara-cara guru belajar dan mengajar serta menganalisis dampaknya terhadap perolehan belajar siswa. Agar hal ini terjadi, sekolah perlu menciptakan suatu proses yang mampu memfasilitasi para guru untuk melakukan kajian terhadap materi pembelajaran, model dan metode pembelajaran, serta strategi-strategi mengajar secara sistematis, sehingga dapat memfasilitasi siswa untuk meningkatkan perolehan belajar.
Program-program atau model-model pengembangan profesionalisme guru membutuhkan fasilitas yang dapat memberi peluang kepada mereka learning how to learn dan to learn about teaching. Model pembinaan yang dapat mengembangkan dan meningkatkan profesionalisme pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegialitas dan mutual learning untuk membangun learning community dikenal dengan Lesson study (LS). LS dilaksanakan dalam tiga tahapan, yaitu merencanakan (plan), melaksanakan (do), dan merefleksi (see) secara terus menerus dan berkelanjutan. Implementasi lesson study secara berkelanjutan membantu guru mempercepat peningkatan kompetensi paedagogik dan profesionalismenya. Saat ini di sekolah dasar menggunakan kurikulum 2013 yang berbasis tematik dengan mengedepankan pendekatan scientific dan adapula SD yang masih menggunakan kurikulum KTSP. Meskipun demikian, guru-guru SD dituntut untuk segera menyelaraskan dan meningkatkan kemampuan profesionalismenya dalam mengajar terutama mengimplementasikan pembelajaran yang dapat memfasilitasi berpikir tingkat tinggi siswanya. Melalui kegiatan LS diharapkan guru-guru yang sudah mengikuti pelatihan implementasi kurikulum 2013 dan guru yang sudah mengikuti pelatihan tentang implementasi pembelajaran berbasis HOTS yang diselenggarakan oleh LPPM, Dinas Pendidikan serta lembaga yang berkonsentrasi dalam meningkatkan profesionalisme guru seperti USAID Prioritas diharapkan dapat melakukan pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegialitas kepada guru-guru yang lain melalui kegiatan LS.
Indikator-indikator peningkatan profesionalisme guru melalui pelaksanaan lesson study dapat dilakukan melalui pengembangan perangkat pembelajaran (SSP) yang mengimplementasikan pembelajaran HOTS. LS terdiri dari siklus plan-do-see yang memungkinkan guru untuk dapat mengembangkan pemikiran kritis dan kreatif tentang belajar dan pembelajaran, proses sharing pengalaman berbasis pengamatan pembelajaran memberi peluang bagi guru untuk mengembangkan keterbukaan dan peningkatan kompetensi sosialnya, dan proses-proses refleksi secara berkelanjutan merupakan suatu proses bagi guru untuk meningkatkan kesadaran akan keterbatasan dirinya.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan pada tanggal 24 Januari 2018 pada 2 orang kepala sekolah (SD Negeri Mangkubumen Kulon 83 Surakarta dan SD Negeri Purwotomo Surakarta) diperoleh hasil bahwa pengetahuan dan kemampuan guru untuk menyusun subject spesific paedagogik (SSP) atau perangkat pembelajaran yang memfasilitasi berpikir tingkat tinggi bagi siswanya masih rendah. Dari 40 orang guru yang di 2 sekolah tersebut hanya 2 orang guru (5,7%) yang sudah mendapatkan pelatihan tentang pembelajaran berbasis HOTS, 12 (34,3%) orang sudah mengetahui namun belum pernah mengimplementasikan dan 23 (65,7%) orang guru yang masih belum mengetahui, belum pernah mengikuti pelatihan/workshop apalagi mengimplementasikan pembelajaran berbasis HOTS.
Agar proses penyelarasan kemampuan tentang pembelajaran tematik pada semua guru mitra dapat berlangsung dengan cepat, maka diperlukan suatu model pembinaan antar teman sejawat melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegialitas untuk berkolaborasi dan merancang lesson (pembelajaran) dan mengevaluasi kesuksesan strategi-strategi mengajar yang telah diterapkan antara guru yang sudah memahami pembelajaran yang memfasilitasi HOTS dengan guru yang masih kurang sebagai upaya meningkatkan proses dan perolehan belajar siswa.
Lesson Study (LS) merupakan salah satu strategi pengembangan profesi guru dengan prinsip mengembangkan pembelajaran secara bersama-sama, salah seorang guru ditugasi melaksanakan pembelajaran, guru lainnya mengamati belajar siswa. Proses ini dilaksanakan selama pembelajaran berlangsung. Pada akhir kegiatan, guru-guru berkumpul dan melakukan tanya jawab tentang pembelajaran yang dilakukan, merevisi dan menyusun pembelajaran berikutnya berdasarkan hasil diskusi.
Permasalahan rendahnya kemampuan guru tersebut harus segera diatasi, karena begitu pentingnya keterampilan guru dalam menyampaikan materi ajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum. Berdasarkan Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan guru memiliki peran yang strategis dalam bidang pendidikan, jika guru-guru yang berkualitas dan profesional kurang maka peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia sulit untuk terwujud. Guru merupakan ujung tombak dalam upaya peningkatan kualitas layanan dan hasil pendidikan, untuk itu peningkatan kualitas pendidikan harus dilakukan melalui upaya peningkatan kompetensi paedagogik dan profesionalisme guru.
Namun kenyataannya menunjukkan bahwa belum semua guru di SD Mitra yang memahami, mengerti dan melaksanakan pembelajaran yang memfasilitasi HOTS dan berbasis kurikulum 2013. Hal ini antara lain disebabkan karena belum semua guru dapat mengikuti pelatihan implementasi kurikulum 2013. Menyikapi kurikulum yang baru ini, guru-guru SD dituntut untuk segera menyelaraskan dan meningkatkan kemampuan profesionalismenya dalam mengajar. Melalui kegiatan LS diharapkan guru-guru yang sudah mengikuti pelatihan implementasi kurikulum 2013 dan pernah mengikuti pelatihan model pembelajaran berbasis HOTS dibantu tim IPM dan sudah mengetahui, memahami, serta melaksanakan pembelajaran di kelasnya dapat melakukan pembinaan melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas kepada guru-guru yang lain melalui kegiatan LS.
Berbagai upaya telah dilakukan pihak sekolah guna meningkatkan pemahaman dan kemampuan guru tentang pembelajaran yang memfasilitasi HOTS yang sesuai dengan kurikulum 2013 guna menyiapkan siswa di abad 21, diantaranya dengan mengirimkan guru-guru untuk mengikuti pelatihan dan mendatangkan narasumber. Namun berbagai upaya yang telah dilakukan pihak sekolah belum menampakkan hasil yang optimal, hal ini dikarenakan pelatihan-pelatihan yang diberikan belum menyentuh pada kegiatan praktik langsung (mengimplementasikan) atau melihat contoh pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran berorientasi HOTS dan berbasis kurikulum 2013 secara langsung (guru model) sehingga guru-guru akan lebih jelas dan mengerti. Upaya lain yang dirasa dapat meningkatkan kompetensi guru bidang profisional dan paedagogil yaitu dengan menggabungkan workshop penyusunan perangkat pembelajaran (SSP) hingga mengimplementasikannya di kelas melalui kegiatan LS.

Posted in Kolom Pendidikan | Comments Off on Subject Spesific Paedagogic Berbasis HOTs