PELATIHAN SOCIOENTREPRENEUR BAGI MASYARAKAT NON PRODUKTIF DI COLOMADU

Oleh Prof. Dr. rer.nat Sajidan, Masykuri, Baskoro Adi P

Berwirausaha merupakan sebuah langkah inovatif yang kian menggeliat di berbagai kalangan untuk mewujudkan kemandirian. Kegiatan kewirausahaan tidak saja menjadi daya tarik kalangan yang masih mencari peluang mendapatkan penghasilan, tetapi juga menjadi obyek sasar para pemilik modal dan pemilik usaha dalam rangka meningkatkan pundi-pundi penghasilan mereka. Berwirausaha dalam konteks mencari peluang usaha yang baru dan inovatif telah banyak disasar oleh kalangan luaran baru lembaga pendidikan, bahkan mahasiswa yang masih pada tahap tingkat pendidikan level awal pun telah banyak melakukan aktifitas-aktifitas kewirausahaan. Banyaknya peminat dari kalangan mahasiswa dan luaran baru dalam kompetisi wirausaha mandiri yang digagas oleh salah satu Bank plat merah di Indonesia pun menjadi bukti yang kuat betapa berwirausaha telah menjadi salah satu sarana untuk menunjukkan kemandirian dan tekad yang kuat para generasi muda untuk melahirkan ide-ide usaha yang kreatif untuk mendukung masa depan mereka.
Dalam sebuah negara yang mengadopsi sistem pasar bebas, berwirausaha merupakan sebuah keniscayaan untuk mendukung perangkat negara dalam menyejahterakan masyarakat. Terkadang, karena keterbatasan sumber daya dan dana, negara tidak memiliki kemampuan maksimal dalam mewujudkan tujuan negara itu sendiri. Bahkan banyak ditemukan bahwa negara tidak memiliki kemampuan yang mumpuni untuk menyiapkan kesempatan kerja bagi para lulusan sekolah atau perguruan tinggi yang jumlahnya terus bertambah. Pada titik ini, berwirausaha dapat menjadi langkah solutif untuk mengurangi kesenjangan kehidupan masyarakat dan atau untuk mengurangi, bila tidak dapat mengikis habis, tingkat pengangguran yang menunjukkan grafik yang meningkat.
Berdasarkan data Biro Pusat Statistik per Agustus 2015, jumlah angkatan kerja Indonesia adalah sebanyak 122,4 juta orang, dengan jumlah orang bekerja sebanyak 114,8 juta orang. Hal ini berarti bahwa terdapat 7,6 juta orang yang menganggur atau sebesar 6,18 persen. BPS juga merilis bahwa tingkat pendidikan SD masih mendominasi penduduk bekerja yaitu sebesar 44,27 persen, sementara penduduk bekerja dengan pendidikan Sarjana ke atas hanya sebesar 8,33 persen.
Sesuai dengan karakter dasarnya, berwirausaha merupakan sebuah upaya untuk ‘bekerja sendiri (self-employment), membeli dengan harga yang telah ditentukan, kemudian menjualnya di toko atau di pasar dengan harga yang belum ditentukan. Berwirausaha dapat pula diartikan sebagai ‘semangat, sikap, perilaku dan kemampuan seseorang dalam menangani usaha atau kegiatan yang mengarah pada upaya mencari, menciptakan serta menerapkan cara kerja, teknologi dan produk baru dengan meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik dan atau memeroleh keuntungan yang lebih besar (Cantillon, 2010). Dari karakter dasar dan pengertian ini, dapat dipahami bahwa berwirausaha pada prinsipnya sejauh mana usaha mandiri dengan kreatifitas dan inovasi yang dikembangkan, dengan memberikan keuntungan yang lebih baik bagi pelakunya (Keputusan Menteri Koperasi dan Pembinaan Pengusaha Kecil Nomor 961/KEP/-M/XI/1995).

Posted in Kolom Pendidikan | Comments Off on PELATIHAN SOCIOENTREPRENEUR BAGI MASYARAKAT NON PRODUKTIF DI COLOMADU

PELATIHAN PERMODELAN AUTHENTIC ASSSESMENT BERBANTUAN GOOGLE FORM SESUAI KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN TEMATIK DI SEKOLAH DASAR

Oleh Drs. Hasan Mahfud, M.Pd dan Fadhil Purnama Adi SH.,MH

Teknologi adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kegiatan manusia pada era ini. Era yang disebut sebagai era disrupsi yang bentuk implementasi nyatanya adalah Revolusi Industri 4.0 dan didalam pendidikan disebut sebagai Education 4.0. Oleh karena semua aspek kehidupan harus bisa beradaptasi atau bahkan mengakselerasi Era ini, sehingga tidak menjadi terisolasi karena tidak bisa mengikuti. Dalam dunia pendidikan hal ini berdampak pada fungsi guru baik dalam perencaan, pelaksanaan, dan penilaian hasil belajar. Hal ini tentunya harus berkorelasi dengan kebijakan pemerintah yakni pelaksanaan Kurikulum Tematik. Disinilah fungsi guru, yakni menjadi “jembatan” dalam pengembangan perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian hasil belajar kurikulum Tematik dengan pengembangan teknologi. Namun, berdasarkan fakta yang ditemukan, guru masih mengalami kesulitan dalam membuat perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian kurikulum Tematik yang terintegrasi dengan perkembangan teknologi. Kesulitan yang dihadapi guru adalah kurangnya pemahaman guru tentang perkembangan teknologi yang dapat digunakan oleh guru dalam pelaksanaan pembelajaran. Argumentasi ini berdasarakang angket yang telah berikan secara random kepada guru di wilayah kota surakarta, data yang ditemukan dari 100 guru yang diberi angket hampir 92% mengatakan tidak mengetahui aplikasi atau teknologi apa saja yang dapat diintegrasikan di dalam pembelajaran khususnya dalam hal penilaian. Tentunnya hal ini menjadi ironi yang nyata karena perkembangan education 4.0 menuntut guru untuk menggunakan teknologi yang terbaru. Sebagaimana secara detail terdapa pada gambar dibawah ini.

Gambar 1 Display kualifikasi pendidikan sesuai dengan perkembangan zamannya

Berdasarkan display pada gambar 1 nampak bahwa Education 4.0 menuntut adanya Teknologi yang digunakan Faster, Smarter, dan Better. Maknanya adalah keterbaruan atau perkembangan teknologi harus dimanfaatkan di dalam pelaksanaan pendidikan. Guru harus mampu memberikan fasilitas yang sesuai dengan tuntutan zaman. Faktanya guru masih melakukan evaluasi secara konvensional yakni dengan memberikan hardfile atau berkas soal atau dapat dikatakan masih konvensional. Hal ini juga dipengaruhi dari cara mengajar guru yang juga masih konvensional sebagai penggamabaran ilustrasi dibawah ini:

Gambar 2 Education 1.0 guru sebagai pusat informasi

Ilustrasi yang digambarkan pada gambar 2 menunjukkan bahwa cara penyampaian yang dilakukan oleh guru saat ini masih dalam skala education 1.0, oleh karenanya evaluasi yang dilakukan masih education 1.0. Hal ini harus segera diatasi dengan pemberian solusi yang tepat yakni dengan adanya pelatihan sarana-sarana yang dapat menunjang pembelajaran yang berbasis teknologi salah satunya evaluasi. Hal ini harus dikembangkan didalam kualitas kompetensi guru itu sendiri.
Kompetensi Guru merupakan indikator seorang guru profesional, kompetensi yang dimaksudkan Menurut Syaiful Sagala (2009: 209) kompetensi merupakan kelayakan untuk menjalankan tugas, kemampuan sebagai faktor penting bagi guru, oleh karena itu kualitas dan produktivitas kerja guru harus mampu memperlihatkan perbuatan profesional yang bermutu.
Adapun kompetensi guru (teacher competency) is the ability of a teacher to responsibility perform his or her duties appropriately. Kompetensi guru merupakan kemampuan seseorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban secara bertanggung jawab dan layak (Usman, 2002). Terdapat empat kompetensi guru yang harus diimiliki oleh guru yakni Kompetensi Pedagogik, Komptensi Profesional, Kompetensi Sosial, dan Kompetensi Personal.
Keempat kompetensi ini memiliki urgensi dalam pelaksaaan proses evaluasi pembelajaran. Salah satu implikasinya adalah kemampuan guru dalam melihat tantangan dan peluang era education 4.0 sehingga dapat mengakselerasinya dengan menyediakan evaluasi pembelajaran yang terstandar dan terintegrasi dengan teknologi.
Permasalahan yang timbul saat ini adalah tentang rendahnya kemampuan guru dalam membuat evaluasi pembelajaran yang terintegrasi dengan teknologi untuk mengakselerasi Education 4.0. Urgensi dari hal ini adalah ketika evaluasi pembelajaran yang dilaksanakan tidak bersinergi dengan perkembangan zaman maka akan berdampak sistemik dan masif terhadap perkembangan kualitas pendidikan. Evaluasi adalah alat ukur dari pelaksanaan pembelajaran sehingga sentuhan akhir untuk menentukan kualitas pembelajaran adalah evaluasi pembelajarannya. Pembelajaran Tematik adalah pembelajaran yang menggunakan evaluasi komprehensif sehingga akan mengukur secara tema, sehingga apabila dintegrasikan dengan menggunakan teknologi akan mempermudah guru dalam melaksanaan evaluasi.
Berdasarakan hasil observasi awal yang dilakukan evaluasi pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah belum terintegrasi dengan teknlogi dikarena beberapa hal yakni 1) Guru belum mengetahui aplikasi yang dapat digunakan untuk melakukan evaluasi pembelajaran tematik, 2) Gagap Teknologi, dan 3) kurangnya inisiatif guru untuk mempelajari lebih lanjut atau dapat dikatakn guru nyaman dengan zonanya. Apabila kondisi seperti ini terus menerus dibiarkan maka secara moril para akademisi dan praktis pendidikan telah tidak melaksanakan amanah dang tanggung jawabnya dalam menyelenggarakan pendidikan sesuai dengan amanah Undang-Undang dan Undang-Undang Dasar 1945. Solusi yang dapat diberikan adalah dengan mengadakan Pelatihan Permodelan Authentic Asssesment Berbantuan Google Form. Solusi ini diberikan mengingat permasalahan ini harus segera diselesaikan dengan peningkatan kualitas guru dalam membuat evaluasi pembelajaran berbantuan google form. Hal ini dikarenakan Evaluasi Pembelajaran yang berbatuan Google Form memiliki manfaat antara lain untuk mengakselarasi education 4.0 dengan mengoptimalkan cara atau teknik evaluasi yang berbantuan teknologi.
Evaluasi Pembelajaran adalah hal yang penting. Norman E. Gronlund (1976) berpendapat bahwa evaluasi merupakan proses yang dilakukan secara sistematis untuk membuat atau menentukan keputusan terkait dengan sejauh mana para siswa berhasil mencapai tujuan-tujuan pengajaran.. Purwanto (2002) juga mengemukakan pendapatnya tentang evaluasi dalam pendidikan. Ia menyatakan bahwa pengertian evaluasi adalah penilaian yang dilakukan terhadap kualitas tertentu dalam dunia pendidikan. Evaluasi sangat berkaitan erat dengan keputusan dan kebijakan yang diberikan pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.
Google Form atau yang disebut google formulir adalah alat yang berguna untuk membantu anda merencanakan acara, mengirim survei, memberikan siswa atau orang lain kuis, atau mengumpulkan informasi yang mudah dengan cara yang efisin. Form juga dapat dihubungkan ke spreadsheet.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada tanggal 21 Januari s.d. 25 Januari 2019 pada 2 orang kepala sekolah (SD Negeri Mangkubumen Kulon 83 dan SD N Dukuhan Kerten) diperoleh hasil bahwa pengetahuan dan kemampuan guru untuk membuat evaluasi yang berbantuan google form masih rendah. Dari total guru yang ada di kedua SD mitra sebanyak 35 orang, hanya 3 orang guru atau sekitar (8,57%) yang sudah mengetahui dan menggunakan teknologi dalam pembelajaran tetapi untuk evaluasi masih semuanya belum. Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala sekolah, diperoleh hasil bahwa guru guru mengalami kesulitan untuk membuat sebuah Evaluasi Pembelajaran yang berbatuanteknologi ini dikarenakan guru belum mengetahui dan memahami teknologi apa yang bisa diintegrasikan di dalam evaluasi pembelajaran.
Keberadaan Evaluasi Pembelajaran berbantuan Google Form di lingkungan sekolah khususnya sekolah dasar dalam upaya mengoptimalkan hasil dari setiap pelaksanaan proses pembelajaran sangatlah penting, oleh karenanya dibutuhkan pelatihan dan pendampingan yang dapat membantu guru untuk menguasai materi tentang Pelatihan Permodelan Authentic Asssesment Berbantuan Google Form baik dari sisi pembuatan dan penggunaan. Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan pada beberapa SD mitra tersebut diperoleh hasil bahwa kemampuan guru untuk memahami dan mengimplementasikan Authentic Asssesment Berbantuan Google Form masih rendah sehingga sangat mendesak dilakukan pemberian informasi dan pelatihan serta pendampingan Authentic Asssesment Berbantuan Google Form pada guru-guru tersebut.

Posted in Kolom Pendidikan | Comments Off on PELATIHAN PERMODELAN AUTHENTIC ASSSESMENT BERBANTUAN GOOGLE FORM SESUAI KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN TEMATIK DI SEKOLAH DASAR

URGENSI PENDAMPINGAN PENULISAN ARTIKEL ILMIAH BAGI GURU SEKOLAH DASAR

Oleh Dr. Hartono, M.Hum dan Dra. Sularmi, M.Pd

Guru adalah profesi yang tidak hanya memiliki tanggung jawab untuk mencerdaskan siswa atau dalam skala yang lebih luas yakni mencerdaskan bangsa, melainkan guru juga merupakan sebuah profesi yang memiliki tanggung jawab dalam pengembangan kompetensi diri. Pengembangan kompetensi diri guru meliputi berbagai aspek seperti administrasi, kompetensi mengajar, memberikan penyuluhan dan konseling kepada siswa, dan di era baru ini guru juga memiliki kewajiban untuk melakukan penelitian serta melakukan publikasi. Sebagaimana dijelaskan oleh Hamalik (2003) bahwa guru adalah seorang ilmuan, yakni guru tidak hanya menyampaikan pengetahuan yang dimiliki tetapi juga berkewajiban mengembangkan pengetahuan yang dimiliki dan terus menerus memupuk pengetahuan yang dimiliki.
Guru juga adalah profesi yang memiliki tanggung jawab moril untuk memberikan sumbangsih dalam pengembangan dan peningkatan kualitas pendidikan baik dari tingkat dasar sampai dengan perguruan tinggi. Oleh karena itu, guru memiliki 4 kompetensi dasar yang harus dipenuhi agar memiliki kualitas yang profesional. Berdasarkan pada paradigma yang ada maka seorang guru harus memiliki kompetensi yang mumpuni atau profesioanal, dikarenakan dalam mengemban tanggung jawab moral yang begitu besar dan dalam upaya menjamin mutu pelaksanaan pembelajaran harus diimbangi dengan kompetensi yang mumpuni sehingga melaksanakan tanggung jawab tersebut. Kompetensi Guru merupakan indikator seorang guru profesional, kompetensi yang dimaksudkan Menurut Syaiful Sagala (2009: 209) kompetensi merupakan kelayakan untuk menjalankan tugas, kemampuan sebagai faktor penting bagi guru, oleh karena itu kualitas dan produktivitas kerja guru harus mampu memperlihatkan perbuatan profesional yang bermutu.
Adapun kompetensi guru (teacher competency) is the ability of a teacher to responsibility perform his or her duties appropriately. Kompetensi guru merupakan kemampuan seseorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban secara bertanggung jawab dan layak (Usman, 2002). Terdapat empat kompetensi guru yang harus diimiliki oleh guru yakni Kompetensi Pedagogik, Komptensi Profesional, Kompetensi Sosial, dan Kompetensi Personal.Keempat kompetensi ini memiliki urgensi dalam pelaksaaan proses pendidikan atau pembelajaran, yakni kompetensi pedagogik akan berpengaruh terhadap kesiapan guru dalam mengajar, komptensi profesional akan berpengaruh kepada kemampuan guru mengalikasikan ilmu, kompetensi sosial berpengaruh kepada kemampuan guru untuk menjalin komunikasi dengan lingkungan siswa atau sekolah, dan kompetensi personal akan berpengaruh terhadap refleksi kepribadian guru di dalam melaksanakan pembelajaran.Pembelajaran yang dimaksud adalah pembelajaran merupakan suatu proses yang sistematis melalui tahap rancangan, pelaksanaan, dan evaluasi (Knirk dan Gustafson, 1986:15). Kegiatan Perancangan, pelaksanaan, dan evaluasi harus dikuatkan dengan kompetensi yang mumpuni yang dimiliki oleh guru.
Salah satu bentuk implementasi nyata dari seorang guru yang profesional adalah memiliki kemampuan untuk melakukan kajian referensi ilmiah dan melakukan publikasi ilmiah. Namun, berdasarkan temuan yang ada masih banyak guru yang belum bisa melakukan penelusuran, penulisan, dan publikasi ilmiah. Notabene 3 kemampuan dasar inilah yang dibutuhkan oleh guru dalam hal pengembangan kompetensi pedagogik dan profesionalitasnya. Di lain sisi, keterampilan guru dalam menelusur, menulis, dan mempubikasikan artikel ilmiah merupakan salah satu tuntutan wajib apabila guru hendak mengajukan peningkatan golongan atau biasa disebut sebagai PAK (Peningkatan Angka Kredit).
Kemampuan Penelitian dan Publikasi guru sangat dibutuhkan untuk pengembangan kompetensi diri guru dan pengembangan khasanah keilmuan ke SDan baik dari segi teori dan praktik. Kemampuan guru dalam melakukan penelitian dan publikasi tidak serta merta tanpa pelatihan dan pendampingan dari ahli, dalam hal ini adalah akademisi di Universitas, sebagaimana sesuai anjuran Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Pelatihan dan pendampingan penelitian dan publikasi erat kaitannya dengan kemampuan dasar guru dalam melakukan penelusuran dan pengkajian referensi ilmiah. Kemampuan ini penting karena dalam melakukan penelitian dan publikasi harus didasari oleh kemampuan guru dalam melakukan sintesis referensi ilmiah untuk memberikan penguatan teori dalam tahapan pengkajian teori pendukung penelitian. Selain itu dalam upaya publikasi pemahaman guru tentang Publisher jurnal teryata masih rendah bahkan masih banyak guru yang tidak mengetahui tentang tata cara melakukan publikasi ilmiah melalui sistem OJS (Open Journal System).
Permasalahan yang timbul saat ini adalah tentang kemampuan guru dalam mengembangkan kompetensi guru tentang penulisan dan publikasi artikel ilmiah. Penelitian yang baik dan publikasi artikel ilmiah yang berkualitas menjadi peluang dan tantangan tersendiri bagi guru sekolah dasar. Referensi yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian dan publikasi merupakan salah satu faktor yang menentukan kualitas dari penelitian dan publikasi guru. Kajian yang mendalam dan luas dari dua variabel penelitian memberikan dampak yang sistemik dan masif terhadap hasil dan kualitas dari publikasi yang dihasilkan. Kajian yang up to date akan memberikan sumbangsih yang bermanfaat bagi perkembangan keilmuan ke SDan. Karena pada hakikatnya guru lah sosok yang mengerti dan paham mengenai permasalahan yang ada disekolah dasar, sehingga hal ini bisa dipublikasikan maka akan memberikan ruang kepada akademisi untuk berkolaborasi dengan guru untuk mengentaskan persamalahan yang ada.
Dikutip dari web uny.ac.id dipaparkan oleh Prof. Dr. Pratomo Widodo bahwa hasil penelitian memang lebih baik dipublikasikan karena tingkat keterbacaannya menjadi lebih baik dan optimal dibandingkan hanya diberikan di perpustakaan dengan ketebalan yang berhalaman-halaman. Lebih lanjut Prof. Dr. Pratomo Widodo menambahkan bahwa jurnal ilmiah (publikasi ilmiah) yang ideal adalah yang ringan tetapi memiliki isi yang memang dibutuhkan oleh seorang guru. Manfaat lain yang didapatkan dari aktivitas publikasi guru adalah para akademisi jadi memahami kebutuhan dari market penelitian yang mereka kaji, sehingga arah perkembangan penelitiannyapun akan diarahkan untuk membantu pengentasan permasalahan. Sebagaimana dipaparkan oleh Prof. Dr. Muhammad Nasir selaku Menteri RisTekDikti pada saat pelantikan ketua BPPT sebagaimana ditulis di halaman instagram resmi @ristekdikti bahwa penelitian yang dilakukan harus diarahkan sesuai dengan kebutuhan pasar, sehingga kebermanfaatan dari penelitian akan lebih bisa dirasakan. Hal-hal ini lah yang sebenaranya menjadi dampak yang tidak terlihat namun signifikan untuk mengembangkan kualitas pendidikan Indonesia.
Melihat dampak yang signifikan dan masif dari penelitian dan publikasi ilmiah yang dilakukan oleh guru maka permasalahan ini harus segera dientaskan. Namun mengutip dari Jawapos.com pada tanggal 21 November 2018 terdapat enam pokok permasalahan yakni 1) Motivasi menulis yang rendah di kalangan guru, 2) pemberi motivasi menulis sangat sedikit, 3) tuntutan penyusunan administrasi dan perangkat pembelajaran sangat kompleksitas, 4) media publikasi tulisan guru sedikit, 5) belum terciptanya budaya menulis, 6) belum adanya rangsangan (stimulus) untuk menulis di kalangan guru. Solusi yang dapat diberikan adalah dengan mengadakan pelatihan dan pendampingan P3 (Penelusuran, Penelitian, dan Publikasi) Artikel ilmiah. Solusi ini diberikan mengingat permsalahan ini harus segera diselesaikan dengan peningkatan kualitas guru tentang pengetahuan dan pemahaman tentang P3 (Penelusuran, Penelitian, dan Publikasi) Artikel ilmiah. Alasan yang mendasari solusi yang diberikan adalah P3 (Penelusuran, Penelitian,dan Publikasi) Artikel ilmiah karena P3 (Penelusuran, Penelitian, dan Publikasi) Artikel ilmiah konsep yang solutif dan sesuai dengan arahan kebijakan yang ada. Revolusi mental yang digagas oleh bapak Presiden Joko Widodo juga membutuhkan sumbangsih dari publikasi guru sebagaiamana dijelaskan Steven R.Covey (BPSDM- Kemendikbud, 2012) menyebutkan bahwa kegiatan publikasi ilmiah adalah salah satu bentuk memperbaharui mental. P3 (Penelusuran, Penelitian, dan Publikasi) Artikel ilmiah juga menjawab faktor-faktor penyebab permasalahan ini muncul, seperti Motivasi menulis yang rendah dan kurangnya motivator sedikit terselesaikan dengan solusi ini yakni dengan adanya Pelatihan dan Pendampingan P3 (Penelusuran, Penelitian, dan Publikasi) Artikel ilmiah maka guru akan memiliki motivasi yang berlipat karena mendapatkan ilmu tentang penulisan dan publikasi dari ahli, selain itu dengan adanya pendampingan maka guru akan mendapatkan suntikan dukungan karena merasa ada back up dari ahli penulisan ilmiah.
Faktor yang berikutnya adalah media publikasi yang sedikit, ini sebenarnya adalah kurangnya pengetahuan guru tentang tata cara submit untuk publikasi sehingga dengan P3 (Penelusuran, Penelitian, dan Publikasi) Artikel ilmiah maka guru akan mendapatkan ilmu tentang tata cara submit publikasi langsung dari pengelola jurnal atau publisher. Faktor yang berikutnya adalah belum adanya budaya menulis maka akan terselesaikan dengan P3 (Penelusuran, Penelitian, dan Publikasi) Artikel ilmiah karena di dalam pelatihan ini guru akan mengikuti workshop yang berbasis pada produk karya sehingga secara tidak langsung akan menulis sesuai dengan arahan dan pendampingan dari ahli, untuk masalah faktor stimulus maka P3 (Penelusuran, Penelitian, dan Publikasi) Artikel ilmiah juga akan mengajak tim PAK kota atau kabuoaten untuk memberikan gambaran tentang dampak dari pelatihan P3 (Penelusuran, Penelitian, dan Publikasi) Artikel ilmiah terhadap kemudahan dalam pemenuhan PAK.
P3 (Penelusuran, Penelitian, dan Publikasi) Artikel ilmiah memberikan dampak yang positif terhadap peningkatan kualitas kompetensi guru. Manfaat dari P3 (Penelusuran, Penelitian, dan Publikasi) Artikel ilmiah yakni berdasarkan hasil wawancara terhadap guru yang telah menggunakan (uji materi di SD yang bukan mitra pengabdian) adalah (1) P3 (Penelusuran, Penelitian, dan Publikasi) Artikel ilmiah mampu meningkatkan wawasan dan khazanah keilmuan sesuai dengan isu-isu terbaru, (2) P3 (Penelusuran, Penelitian, dan Publikasi) Artikel ilmiah memudahkan guru dalam mencipta artikel ilmiah, (3) P3 (Penelusuran, Penelitian, dan Publikasi) Artikel ilmiah membantu guru dalam melengkapi syarat Peningkatan Angka Kredit (PAK).
Selain itu dengan mengimplementasikan P3 (Penelusuran, Penelitian, dan Publikasi) Artikel ilmiah maka akan membantu khususnya guru dalam hal peningkatan publikasi, sekolah dalam peningkatan kualitas pembelajaran, dan umumnya dunia pendidikan nasioanl karena akan memperkaya referensi referensi ilmiah terkait dengan dunia pendidikan, sebagaimana ada ungkapan bahwa dengan melakukan publikasi di bidang yang ditekuni sebagaimana mengibarkan bendara bidang tersebut. “Dengan membaca kita mengenal dunia, dan dengan menulis dunia mengenal kita”.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada tanggal 15 Januari s.d. 19 Januari 2019 pada 2 orang kepala sekolah (SD Negeri Laweyan dan SD N Purwotomo) diperoleh hasil bahwa kemampuan guru dalam menelusuri referensi ilmiah masih rendah.Dari total guru yang ada di kedua SD mitra sebanyak 30 orang, hanya 3 orang guru atau sekitar (10%) yang mengetahui cara melakukan penelusuran referensi ilmiah, selain itu dalam hal penulisan ilmiah dan publikasi masih belum terdapat guru yang mengetahui secara detail dan jelas sesuai dengan standart yang telah disepakati atau sebesar 0%,. Hal ini dikarenakan guru dan pihak sekolah minim mendapatkan informasi terkait dengan tata cara penulisan dan publikasi ilmiah.
Kompetensi dalam hal penelusuran, penulisan, dan publikasi ilmiah bagi guru di lingkungan sekolah khususnya sekolah dasar dalam upaya mengoptimalkan pengembangan kompetensi guru, dan kualitas pembelajaran serta peningkatan mutu pendidikan nasional, oleh karenanya dibutuhkan pelatihan dan pendampingan yang dapat membantu guru untuk menguasai materi tentang P3 (Penelusuran, Penelitian, dan Publikasi) Artikel ilmiah. Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan pada beberapa SD mitra tersebut diperoleh hasil bahwa kemampuan guru untuk melakukan P3 (Penelusuran, Penelitian, dan Publikasi) Artikel ilmiah masih rendah sehingga sangat mendesak dilakukan pemberian informasi dan pelatihan serta pendampingan P3 (Penelusuran, Penelitian, dan Publikasi) Artikel ilmiah pada guru-guru tersebut

Posted in Agenda Prodi | Comments Off on URGENSI PENDAMPINGAN PENULISAN ARTIKEL ILMIAH BAGI GURU SEKOLAH DASAR

URGENSI PENDAMPINGAN PENYUSUNAN SOAL HIGHER ORDER THINGKING SKILLS (HOTS) BERBASIS CRITICAL THINGKING SESUAI KURIKULUM 2013 GUNA MENGAKSELERASI EDUCATION 4.0

Oleh Drs. Hadi Mulyono, M.Pd dan Dra. Siti Istiyati, M.Pd

Kompetensi guru adalah salah satu patokan kualitas guru. Kompetensi Guru merupakan indikator seorang guru profesional, kompetensi yang dimaksudkan Menurut Syaiful Sagala (2009: 209) kompetensi merupakan kelayakan untuk menjalankan tugas, kemampuan sebagai faktor penting bagi guru, oleh karena itu kualitas dan produktivitas kerja guru harus mampu memperlihatkan perbuatan profesional yang bermutu. Adapun kompetensi guru (teacher competency) is the ability of a teacher to responsibility perform his or her duties appropriately. Kompetensi guru merupakan kemampuan seseorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban secara bertanggung jawab dan layak (Usman, 2002).
Pencapaian hasil pembelajaran yang optimal dan terbentuk siswa yang aktif, kreatif, inovatif, mampu berpikir tingkat tinggi serta memecahkan masalah membutuhkan guru yang kreatif dan inovatif yang selalu mempunyai keinginan untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu proses belajar mengajar di kelas yang terukur dengan soal yang berorientasi pada HOTS, karena dengan peningkatkan mutu soal yang beroreinetasi HOTS, mutu pendidikan dapat ditingkatkan. Oleh karena itu, upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu atau standart soal yang berorientasi HOTS harus ditingkatkan. Jika hasil belajar siswa rendah maka akan berakibat langsung pada kualitas pendidikan di Indonesia. Berdasarkan Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan, guru memiliki peran yang strategis dalam bidang pendidikan, jika guru-guru yang berkualitas dan profesional kurang maka peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia sulit untuk terwujud dengan kata lain, guru merupakan ujung tombak dalam upaya peningkatan kualitas layanan dan hasil pendidikan. Untuk itu peningkatan kualitas pendidikan harus dilakukan melalui upaya peningkatan kualitas kompetensi paedagogik dan profesionalisme guru (Cynthia et al., 2014). Salah satu implementasinya adalah tentang pembuatan soal yang berorientasi HOTS yang berbasis pada Critical Thingking Skills untuk mengkaselerasi Education 4.0. Sadar akan kualitas soal didalam pembelajaran di Indonesia yang belum dapat memfasilitasi kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS) para siswa, maka banyak upaya telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk melakukan perbaikan. Upaya- upaya tersebut di antaranya melakukan perubahan atau revisi kurikulum secara berkesinambungan, program kemitraan antara sekolah dengan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), proyek peningkatan kualifikasi guru, dan masih banyak program lain yang dilakukan untuk perbaikan hasil pendidikan tersebut. Terkait dengan konteks pendidikan yang mengarah pada berbagai ide tentang reformasi yang dikaitkan dengan strategi yang mendukung proses berpikir tingkat tinggi menempati porsi yang substansial untuk diajarkan di kelas. Hal ini dikarenakan Higher Order Thingking Skill (HOTS) merupakan pondasi dalam pembelajaran sesuai hakikatnya, yakni proses (process), produk (products) dan sikap (attitudes) (Atmojo, Sajidan, Sunarno, & Ashadi, 2017). Dengan demikian, sesuai hakikatnya pembelajaran idealnya mengacu pada kegiatan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik dapat memberdayakan potensi berpikir mereka secara maksimal. Melalui pembelajaran yang berbasis berpikir tingkat tinggi (HOTS) dan pengukuran yang HOTS diharapkan siswa menjadi lebih kritis, kreatif, inovatif dan mampu memecahkan masalah sesuai dengan tuntutan abad 21 (Wrahatnolo & Munoto, 2018). Untuk mengatasi belum maksimalnya soal berorientasi HOTS yang disusun oleh guru, perlu dilakukan kegiatan yang mampu memfasilitasi guru melakukan kajian terhadap instrumen penilaian apakah sudah memfasilitasi HOTS para siswa pemaduan prinsip HOTS dalam menyusun Soal yang berorientasi HOTS dan berbasis Critical Thingking Skills dapat dilakukan melalui kegiatan workshop. SOAL merupakan perangkat pembelajaran penitng yang terdiri dari Kisi-kisi dan Berkas Soal serta kriteria penilaian. Melalui soal-soal HOTS dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan kreatif siswa (Ilmiah, Siswa, & Kererobbo, 2013)(Monhardt & Monhardt, 2006).
Upaya-upaya telah dilakukan secara intensif, tetapi pengemasan pendidikan sering tidak sejalan dengan hakikat belajar dan pembelajaran. Praktik-praktik pembelajaran hanya dapat diubah melalui identifikasi terhadap cara-cara guru belajar dan mengajar serta menganalisis dampaknya terhadap perolehan belajar siswa. Agar hal ini terjadi, sekolah perlu menciptakan suatu proses yang mampu memfasilitasi para guru untuk melakukan kajian terhadap materi pembelajaran, model dan metode pembelajaran, serta strategi-strategi mengajar secara sistematis, sehingga dapat memfasilitasi siswa untuk meningkatkan perolehan belajar yang diukur melalui soal HOTS.
Program-program atau model-model pengembangan profesionalisme guru membutuhkan fasilitas yang dapat memberi peluang kepada mereka learning how to learn dan to learn about teaching.. Saat ini di sekolah dasar menggunakan kurikulum 2013 yang berbasis tematik dengan mengedepankan pendekatan scientific dan adapula SD yang masih menggunakan kurikulum KTSP. Meskipun demikian, guru-guru SD dituntut untuk segera menyelaraskan dan meningkatkan kemampuan profesionalismenya dalam mengajar terutama mengimplementasikan pembelajaran yang dapat memfasilitasi berpikir tingkat tinggi siswanya. Melalui kegiatan LS diharapkan guru-guru yang sudah mengikuti pelatihan implementasi kurikulum 2013 dan guru yang sudah mengikuti pelatihan tentang implementasi pembelajaran berbasis HOTS yang diselenggarakan oleh LPPM, Dinas Pendidikan serta lembaga yang berkonsentrasi dalam meningkatkan profesionalisme guru seperti USAID Prioritas diharapkan dapat melakukan pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegialitas kepada guru-guru yang lain melalui kegiatan LS.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan pada tanggal 24 Januari 2018 pada 2 orang kepala sekolah (SD Negeri Dukuhan Kerten Surakarta dan SD Negeri Purwotomo Surakarta) diperoleh hasil bahwa pengetahuan dan kemampuan guru untuk menyusun soal yang memfasilitasi berpikir tingkat tinggi bagi siswanya masih rendah. Dari 35 orang guru yang di 2 sekolah tersebut hanya 2 orang guru (5,7%) yang sudah mendapatkan pelatihan tentang pembelajaran berbasis HOTS, 12 (34,3%) orang sudah mengetahui namun belum pernah mengimplementasikan dan 23 (65,7%) orang guru yang masih belum mengetahui, belum pernah mengikuti pelatihan/workshop apalagi mengimplementasikan pembelajaran berbasis HOTS. Agar proses penyelarasan kemampuan tentang pembelajaran tematik pada semua guru mitra dapat berlangsung dengan cepat, maka diperlukan suatu model pembinaan antar teman sejawat melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegialitas untuk berkolaborasi dan merancang lesson (pembelajaran) dan mengevaluasi kesuksesan strategi-strategi mengajar yang telah diterapkan antara guru yang sudah memahami soal yang memfasilitasi HOTS dengan guru yang masih kurang sebagai upaya meningkatkan proses dan perolehan belajar siswa.
Permasalahan rendahnya kemampuan guru tersebut harus segera diatasi, karena begitu pentingnya keterampilan guru dalam menyusun soal HOTS berbasis Critical Thingking untuk mengakselerasi Education 4.0. Berdasarkan Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan guru memiliki peran yang strategis dalam bidang pendidikan, jika guru-guru yang berkualitas dan profesional kurang maka peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia sulit untuk terwujud. Guru merupakan ujung tombak dalam upaya peningkatan kualitas layanan dan hasil pendidikan, untuk itu peningkatan kualitas pendidikan harus dilakukan melalui upaya peningkatan kompetensi paedagogik dan profesionalisme guru. Namun kenyataannya menunjukkan bahwa belum semua guru di SD Mitra yang memahami, mengerti dan melaksanakan pembelajaran dan evaluasi yang memfasilitasi HOTS dan berbasis 4Cs. Hal ini antara lain disebabkan karena belum semua guru dapat mengikuti pelatihan HOTS. Menyikapi kurikulum yang baru ini, guru-guru SD dituntut untuk segera menyelaraskan dan meningkatkan kemampuan profesionalismenya dalam mengajar. Melalui kegiatan LS diharapkan guru-guru yang sudah mengikuti pelatihan pembelajaran HOTS dan pernah mengikuti pelatihan model pembelajaran berbasis HOTS dibantu tim IPM dan sudah mengetahui, memahami, serta melaksanakan pembelajaran di kelasnya dapat melakukan pembinaan melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas.
Berbagai upaya telah dilakukan pihak sekolah guna meningkatkan pemahaman dan kemampuan guru tentang pembelajaran yang memfasilitasi HOTS yang sesuai dengan kurikulum 2013 guna menyiapkan siswa di abad 21, diantaranya dengan mengirimkan guru-guru untuk mengikuti pelatihan dan mendatangkan narasumber. Namun berbagai upaya yang telah dilakukan pihak sekolah belum menampakkan hasil yang optimal, hal ini dikarenakan pelatihan-pelatihan yang diberikan belum menyentuh pada kegiatan praktik langsung (mengimplementasikan) atau melihat contoh soal berorientasi HOTS dan berbasis Critical Thingking secara langsung (guru model) sehingga guru-guru akan lebih jelas dan mengerti. Upaya lain yang dirasa dapat meningkatkan kompetensi guru bidang profisional dan paedagogik yaitu dengan menggabungkan workshop penyusunan soal HOTS berorientasi Crithical Thingking hingga mengimplementasikannya di kelas melalui kegiatan LS. Tujuan umum kegiatan IPM ini adalah 1) membantu guru-guru di SD Negeri SD N Purwotomo dan SD N Dukuhan Kerten dalam membuat Soal HOTS berbasis Critical Thingking 2) meningkatkan kemampuan guru-guru dalam mengembangkan kompetensi profesional dan pedagogik

Posted in Kolom Pendidikan | Comments Off on URGENSI PENDAMPINGAN PENYUSUNAN SOAL HIGHER ORDER THINGKING SKILLS (HOTS) BERBASIS CRITICAL THINGKING SESUAI KURIKULUM 2013 GUNA MENGAKSELERASI EDUCATION 4.0