Urgensi Penerapan Assessment For Learning (AfL) untuk Sekolah Dasar

Oleh: Jenny IS Poerwanti, Retno Winarni, St. Y. Slamet, M Ismail Sriyanto.

Penilaian memainkan peran utama dan menjadi hal terpenting untuk mengidentifikasi tingkat efektivitas suatu proses dan hasil belajar. Namun, baik atau tidaknya hasil belajar itu sendiri, sebagian besar ditentukan dan tergantung pada seberapa efektif dan akurat penilaian dikembangkan. Pembelajaran menulis di sekolah dasar didasarkan pada interaksi antara dua pendekatan, yaitu pendekatan yang berorientasi proses dan yang berorientasi produk. Oleh karena itu, evaluasi yang dilakukan juga berupa evaluasi proses dan evaluasi produk.

Penilaian dalam pembelajaran menulis sangat diperlukan terutama untuk melihat proses dan hasil kegiatan menulis siswa. Evaluasi terhadap perkembangan kemampuan menulis siswa harus dilakukan secara terus menerus. Dalam pelaksanaannya dapat digunakan beragam bentuk evaluasi diantaranya assessment for learning yang dapat membantu guru mengamati perkembangan masing-masing siswa dan siswa sendiri dapat melihat kemampuan yang telah mereka capai.

Penilaian/asesmen tidak lagi dilihat semata-mata sebagai proses pengukuran pencapaian kemampuan peserta didik selama dan di akhir program, tetapi harus dimanfaatkan sebagai umpan balik (feed back), untuk memperbaiki proses pembelajaran, baik oleh peserta didik maupun pendidik. Dengan demikian proses asesmen/penilaian bukan semata- mata asesmen belajar (assessment of learning) tetapi asesmen untuk pembelajaran (assessment for learning).

Temuan di lapangan dan melalui hasil observasi peneliti di SD yang digunakan PPL (Praktik Pengalaman Lapangan), guru masih cenderung menggunakan model tes. baik dalam menilai proses dan hasil pembelajaran, tanpa menghiraukan apakah itu mengukur aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor. Dalam hal mengukur keterampilan menulis peserta didik tidak jarang tanpa disertai rubrik penilaian dan terkesan kurang perencanaan yang matang.

Temuan lapangan ini mengindikasikan bahwa terdapat ketidaksesuaian antara pembelajaran dengan sistem penilaian yang digunakan. Proses penilaian yang biasa dilakukan guru selama ini hanya mampu menggambarkan aspek penguasaan konsep peserta didik. Oleh karena itu, penting peranannya suatu teknik penilaian yang mampu mengungkap aspek produk maupun proses, salah satu dengan menerapkan assessment for learning (AFL).

Sebagai contoh kasus misalnya kegiatan pembelajaran yang melibatkan kinerja siswa dalam melakukan kegiatan menulis narasi maupun eksposisi sudah sering diterapkan, namun terhadap kinerja siswa tersebut jarang dilakukan penilaian. Hasil wawancara pada sejumlah guru SD menunjukkan bahwa hal ini disebabkan penataran atau pelatihan yang secara khusus membahas penerapan penilaian belum pernah diikuti atau belum pernah diadakan di tingkat pendidikan dasar. Kondisi tersebut mengakibatkan pengetahuan, pengalaman maupun penguasaan guru terhadap proses penyusunan asesmen pembelajaran kurang.
Oleh karena itu, guna memperoleh hasil belajar yang dapat diungkap secara menyeluruh, maka perlu dilengkapi dengan alat assessment for learning yang meliputi jenis Penilaian Kinerja (Performance Assessment), Penilaian Karya (Product Assessment), Penilaian Penugasan, Penilaian Proyek, dan Penilaian Portofolio.

Beberap penelitian telah membuktikan bahwa penerapan assessment for learning (AFL) terbukti dapat meningkatkan efektivitas pembelajara. Antara lain penelitian yang dilakukan oleh Mansyur (2009), Paryanto, Sudiyatno (2011) mengungkapkan bahwa AFL dapat meningkatkan efektifitas pembelajaran. Penelitian lainnya adalah penelitian Kurniawan (2014) bahwa penerapan AfL dengan ditinjau dari gaya belajar terbukti dapat meningkatkan kemampuan mathematical problem solving mahasiswa pada mata kuliah kalkulus. Dengan demikian dapat diketahui bahwa penerapan AfL memiliki peran penting dalam pembelajaran, termasuk pembelajaran bahasa Indonesia di SD.

This entry was posted in Kolom Pendidikan. Bookmark the permalink.