PEMBELAJARAN DARING INOVATIF (PPDI) BAGI GURU SD KOTA SURAKARTA UNTUK MENCIPTAKAN PEMBELAJARAN AKTIF INOVATIF KREATIF EFEKTIF MENYENANGKAN GEMBIRA DAN BERBOBOT (PAIKEM GEMBROT) DALAM KONDISI LUAR BIASA KOTA SURAKARTA

Oleh
Idam Ragil WA, Roy Ardiansyah, Dwi Yuniasih Saputri

Di Tengah Pandemi COVID 19 yang terjadi di berbagai belahan Dunia yang berdampak pada setiap komponen penyangga kehidupan termasuk Pendidikan. Dibutuhkan peran dari setiap komponen yang ada di dunia pendidikan sehingga walapun di tengah Pandemi COVID 19 pendidikan tetap tidak kehilangan esesnsinya, salah satu komponen utamanya adalah Guru. Guru adalah ujung tombak pelaksanaan pendidikan, hal ini dikarenakan guru adalah komponen dalam pelaksanaan pendidikan yang paling sering berinteraksi dengan siswa. Guru memiliki tanggung jawab dalam pelaksanaan pembelajaran, bukan hanya ketika menyampaikan materi tetapi juga dalam hal pembentukan pribadi siswa. Dalam pelaksanaan pembelajaran guru harus bisa menggunakan strategi yang tepat dalam pembelajaran termasuk dalam hal penyusunan RPP dan komponen-komponen yang terkait. Terdapat 4 Kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru yakni kompetensi Pedagogik, profesional, sosial, dan personal.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya menyangkut dengan teori pembelajaran telah banyak mendorong mengilhami terhadap inovasi di bidang model- model pembelajaran. Pergeseran istilah “mengajar, belajar, proses belajar mengajar” kepada “pembelajaran” semestinya tidak hanya dilihat dari sekedar perubahan, akan tetapi mendalam dan harus difahami landasan filosofi dan pergeseran paradigma yang terkandung di dalamnya. Terlebih ketika dunia sedang menghadapi Pandemi COVID 19 yang mematikan semua aktivitas publik sehingga harus dikemas dengan cara yang berbeda yang salah satunya dengan mengoptimalkan pembelajaran Daring.
Pembelajaran merupakan sebuah istilah yang kadang-kadang mengundang kontraversi baik di kalangan para ahli maupun di lapangan, terutama diantara guru-guru di sekolah. Sebagian pendapat mengatakan bahwa istilah pembelajaran sesungguhnya hanya berlaku di kalangan pendidikan masyarakat bukan di lingkungan sekolah, dilain pihak justru istilah tersebut sangat relevan dalam sistem persekolahan, yakni untuk membelajarkan siswa. Pendapat lain bahwa pembelajaran merupakan padanan dari nstruction, yang artinya lebih luas dari pengajaran. Pembelajaran tidak hanya berlaku dalam pendidikan melainkan dalam pelatihan atau upaya pembelajaran diri. Namun, dalam situasi Pandemi COVID 19 seperti sekarang ini pelaksanaan yang paling tepat adalah dengan melaksanakan Pembelajaran Daring Inovatif yakni tetap mengedepankan esensi dari pelaksanaan pembelajaran tetapi juga efektif serta tidak memberikan atau membebani psikologi peserta didik.
Memasuki abad ke -21 pendidikan harus mampu mengarahkan peserta didik agar dapat hidup dalam situasi baru yang muncul dalam diri dan lingkungannya. Salah satunya adalah munculnya Pandemi COVID 19. Dengan kondisi seperti itu diperlukan kemampuan belajar bagaimana belajar (learning how to learn), kemampuan tersebut dapat dicapai dengan empat pilar pendidikan yang diajukan UNESCO dan digambarkan sebagai dasar-dasar dari pendidikan. Pilar tersebut yaitu learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together. Dengan memperhatikan empat pilar pendidikan tersebut, dikembangkan kompetensi-kompetensi yang berguna bagi kehidupan peserta didik dimasa depan, yaitu kompetensi keagamaan, ekonomi, sosial, dan pengembangan diri.
Dengan demikian pada haikatnya pendidikan bertujuan mengembangkan atau mengubah tingkah laku peserta didik. Pribadi adalah suatu sistem yang bersifat unik, terintegrasi dan terorganisasi yang meliputi semua jenis tingkah laku individu. Pada hakikatnya pribadi tidak lain daripada tingkah laku itu sendiri. Kepribadian mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : (1) Berkembang secara berkelanjutan sepanjang hidup manusia, (2) Pola organisasi kepribadian berbeda untuk setiap orang dan bersifat unik, (3) Bersifat dinamis, terus berubah melalui cara-cara tertentu.
Peserta didik memiliki berbagai potensi yang siap untuk berkembang. Tiap individu mampu berkembang menurut pola dan caranya sendiri. Mereka dapat melakukan berbagai aktivitas dan mengadakan interaksi dengan lingkungannya. Aktivitas belajar sesungguhnya bersumber dari dalam diri peserta didik. Guru berkewajiban menyediakan lingkungan yang serasi agar aktivitas itu menuju ke arah tujuan yang diinginkan. Dalam hal ini guru bertindak sebagai organisator belajar bagi siswa yang potensial itu sehingga tercapai tujuan pembelajaran secara optimal. Pembentukkan warga negara yang baik adalah warga negara yang dapat bekerja di masyarakat. Sekolah merupakan tempat untuk mencetak calon-calon warga negara yang siap untuk memecahkan masalah-masalah sehari-hari dalam lingkungannya baik di rumah maupun masyarakat. Oleh karena itu, tujuan pembelajaran terutama di sekolah atau di lembaga pendidikan umumnya membutuhkan inovasi agar dapat berkembang sesuai dengan dinamika kehidupan.
Berdasarkan latarbelakang di atas, maka pendidikan harus tetap dilaksanakan seefektif dan efisien mungkin walaupun ditengah Pandemi COVID 19, hal ini dikarenakan pendidikan merupakan komponen penting dalam kehidupan. Pendidikan merupakan penyangga keberlangsungan masa depan bangsa. Para peserta didik yang sekarang Learning From Home adalah generasi muda bangsa, yang nantinya akan memimpin dan membawa bangsa ini, sehingga harus dipersiapkan seoptimal mungkin walaupun ditengah Pandemi COVID 19. Oleh karenanya Tim Pengabdian dari PGSD FKIP UNS hendak berpartisipasi dalam penanganan dan meminimalisir dampak yang di akibatkan oleh COVID 19 khususnya dalam bidang pendidikan melalaui Pelatihan Pembelajaran Daring Inovatif (PPDI).

Posted in Kolom Pendidikan | Comments Off on PEMBELAJARAN DARING INOVATIF (PPDI) BAGI GURU SD KOTA SURAKARTA UNTUK MENCIPTAKAN PEMBELAJARAN AKTIF INOVATIF KREATIF EFEKTIF MENYENANGKAN GEMBIRA DAN BERBOBOT (PAIKEM GEMBROT) DALAM KONDISI LUAR BIASA KOTA SURAKARTA

Urgensi Penerapan Assessment For Learning (AfL) untuk Sekolah Dasar

Oleh: Jenny IS Poerwanti, Retno Winarni, St. Y. Slamet, M Ismail Sriyanto.

Penilaian memainkan peran utama dan menjadi hal terpenting untuk mengidentifikasi tingkat efektivitas suatu proses dan hasil belajar. Namun, baik atau tidaknya hasil belajar itu sendiri, sebagian besar ditentukan dan tergantung pada seberapa efektif dan akurat penilaian dikembangkan. Pembelajaran menulis di sekolah dasar didasarkan pada interaksi antara dua pendekatan, yaitu pendekatan yang berorientasi proses dan yang berorientasi produk. Oleh karena itu, evaluasi yang dilakukan juga berupa evaluasi proses dan evaluasi produk.

Penilaian dalam pembelajaran menulis sangat diperlukan terutama untuk melihat proses dan hasil kegiatan menulis siswa. Evaluasi terhadap perkembangan kemampuan menulis siswa harus dilakukan secara terus menerus. Dalam pelaksanaannya dapat digunakan beragam bentuk evaluasi diantaranya assessment for learning yang dapat membantu guru mengamati perkembangan masing-masing siswa dan siswa sendiri dapat melihat kemampuan yang telah mereka capai.

Penilaian/asesmen tidak lagi dilihat semata-mata sebagai proses pengukuran pencapaian kemampuan peserta didik selama dan di akhir program, tetapi harus dimanfaatkan sebagai umpan balik (feed back), untuk memperbaiki proses pembelajaran, baik oleh peserta didik maupun pendidik. Dengan demikian proses asesmen/penilaian bukan semata- mata asesmen belajar (assessment of learning) tetapi asesmen untuk pembelajaran (assessment for learning).

Temuan di lapangan dan melalui hasil observasi peneliti di SD yang digunakan PPL (Praktik Pengalaman Lapangan), guru masih cenderung menggunakan model tes. baik dalam menilai proses dan hasil pembelajaran, tanpa menghiraukan apakah itu mengukur aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor. Dalam hal mengukur keterampilan menulis peserta didik tidak jarang tanpa disertai rubrik penilaian dan terkesan kurang perencanaan yang matang.

Temuan lapangan ini mengindikasikan bahwa terdapat ketidaksesuaian antara pembelajaran dengan sistem penilaian yang digunakan. Proses penilaian yang biasa dilakukan guru selama ini hanya mampu menggambarkan aspek penguasaan konsep peserta didik. Oleh karena itu, penting peranannya suatu teknik penilaian yang mampu mengungkap aspek produk maupun proses, salah satu dengan menerapkan assessment for learning (AFL).

Sebagai contoh kasus misalnya kegiatan pembelajaran yang melibatkan kinerja siswa dalam melakukan kegiatan menulis narasi maupun eksposisi sudah sering diterapkan, namun terhadap kinerja siswa tersebut jarang dilakukan penilaian. Hasil wawancara pada sejumlah guru SD menunjukkan bahwa hal ini disebabkan penataran atau pelatihan yang secara khusus membahas penerapan penilaian belum pernah diikuti atau belum pernah diadakan di tingkat pendidikan dasar. Kondisi tersebut mengakibatkan pengetahuan, pengalaman maupun penguasaan guru terhadap proses penyusunan asesmen pembelajaran kurang.
Oleh karena itu, guna memperoleh hasil belajar yang dapat diungkap secara menyeluruh, maka perlu dilengkapi dengan alat assessment for learning yang meliputi jenis Penilaian Kinerja (Performance Assessment), Penilaian Karya (Product Assessment), Penilaian Penugasan, Penilaian Proyek, dan Penilaian Portofolio.

Beberap penelitian telah membuktikan bahwa penerapan assessment for learning (AFL) terbukti dapat meningkatkan efektivitas pembelajara. Antara lain penelitian yang dilakukan oleh Mansyur (2009), Paryanto, Sudiyatno (2011) mengungkapkan bahwa AFL dapat meningkatkan efektifitas pembelajaran. Penelitian lainnya adalah penelitian Kurniawan (2014) bahwa penerapan AfL dengan ditinjau dari gaya belajar terbukti dapat meningkatkan kemampuan mathematical problem solving mahasiswa pada mata kuliah kalkulus. Dengan demikian dapat diketahui bahwa penerapan AfL memiliki peran penting dalam pembelajaran, termasuk pembelajaran bahasa Indonesia di SD.

Posted in Kolom Pendidikan | Comments Off on Urgensi Penerapan Assessment For Learning (AfL) untuk Sekolah Dasar

PEMBELAJARAN DI TENGAH PANDEMI

Oleh
Roy Ardiansyah, Idam Ragil WA, dan Dwi Yuniasih Saputri

Di Tengah Pandemi COVID 19 yang terjadi di berbagai belahan Dunia yang berdampak pada setiap komponen penyangga kehidupan termasuk Pendidikan. Dibutuhkan peran dari setiap komponen yang ada di dunia pendidikan sehingga walapun di tengah Pandemi COVID 19 pendidikan tetap tidak kehilangan esesnsinya, salah satu komponen utamanya adalah Guru. Guru adalah ujung tombak pelaksanaan pendidikan, hal ini dikarenakan guru adalah komponen dalam pelaksanaan pendidikan yang paling sering berinteraksi dengan siswa. Guru memiliki tanggung jawab dalam pelaksanaan pembelajaran, bukan hanya ketika menyampaikan materi tetapi juga dalam hal pembentukan pribadi siswa. Dalam pelaksanaan pembelajaran guru harus bisa menggunakan strategi yang tepat dalam pembelajaran termasuk dalam hal penyusunan RPP dan komponen-komponen yang terkait. Terdapat 4 Kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru yakni kompetensi Pedagogik, profesional, sosial, dan personal.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya menyangkut dengan teori pembelajaran telah banyak mendorong mengilhami terhadap inovasi di bidang model- model pembelajaran. Pergeseran istilah “mengajar, belajar, proses belajar mengajar” kepada “pembelajaran” semestinya tidak hanya dilihat dari sekedar perubahan, akan tetapi mendalam dan harus difahami landasan filosofi dan pergeseran paradigma yang terkandung di dalamnya. Terlebih ketika dunia sedang menghadapi Pandemi COVID 19 yang mematikan semua aktivitas publik sehingga harus dikemas dengan cara yang berbeda yang salah satunya dengan mengoptimalkan pembelajaran Daring.
Pembelajaran merupakan sebuah istilah yang kadang-kadang mengundang kontraversi baik di kalangan para ahli maupun di lapangan, terutama diantara guru-guru di sekolah. Sebagian pendapat mengatakan bahwa istilah pembelajaran sesungguhnya hanya berlaku di kalangan pendidikan masyarakat bukan di lingkungan sekolah, dilain pihak justru istilah tersebut sangat relevan dalam sistem persekolahan, yakni untuk membelajarkan siswa. Pendapat lain bahwa pembelajaran merupakan padanan dari nstruction, yang artinya lebih luas dari pengajaran. Pembelajaran tidak hanya berlaku dalam pendidikan melainkan dalam pelatihan atau upaya pembelajaran diri. Namun, dalam situasi Pandemi COVID 19 seperti sekarang ini pelaksanaan yang paling tepat adalah dengan melaksanakan Pembelajaran Daring Inovatif yakni tetap mengedepankan esensi dari pelaksanaan pembelajaran tetapi juga efektif serta tidak memberikan atau membebani psikologi peserta didik.
Memasuki abad ke -21 pendidikan harus mampu mengarahkan peserta didik agar dapat hidup dalam situasi baru yang muncul dalam diri dan lingkungannya. Salah satunya adalah munculnya Pandemi COVID 19. Dengan kondisi seperti itu diperlukan kemampuan belajar bagaimana belajar (learning how to learn), kemampuan tersebut dapat dicapai dengan empat pilar pendidikan yang diajukan UNESCO dan digambarkan sebagai dasar-dasar dari pendidikan. Pilar tersebut yaitu learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together. Dengan memperhatikan empat pilar pendidikan tersebut, dikembangkan kompetensi-kompetensi yang berguna bagi kehidupan peserta didik dimasa depan, yaitu kompetensi keagamaan, ekonomi, sosial, dan pengembangan diri.
Dengan demikian pada haikatnya pendidikan bertujuan mengembangkan atau mengubah tingkah laku peserta didik. Pribadi adalah suatu sistem yang bersifat unik, terintegrasi dan terorganisasi yang meliputi semua jenis tingkah laku individu. Pada hakikatnya pribadi tidak lain daripada tingkah laku itu sendiri. Kepribadian mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : (1) Berkembang secara berkelanjutan sepanjang hidup manusia, (2) Pola organisasi kepribadian berbeda untuk setiap orang dan bersifat unik, (3) Bersifat dinamis, terus berubah melalui cara-cara tertentu.
Peserta didik memiliki berbagai potensi yang siap untuk berkembang. Tiap individu mampu berkembang menurut pola dan caranya sendiri. Mereka dapat melakukan berbagai aktivitas dan mengadakan interaksi dengan lingkungannya. Aktivitas belajar sesungguhnya bersumber dari dalam diri peserta didik. Guru berkewajiban menyediakan lingkungan yang serasi agar aktivitas itu menuju ke arah tujuan yang diinginkan. Dalam hal ini guru bertindak sebagai organisator belajar bagi siswa yang potensial itu sehingga tercapai tujuan pembelajaran secara optimal. Pembentukkan warga negara yang baik adalah warga negara yang dapat bekerja di masyarakat. Sekolah merupakan tempat untuk mencetak calon-calon warga negara yang siap untuk memecahkan masalah-masalah sehari-hari dalam lingkungannya baik di rumah maupun masyarakat. Oleh karena itu, tujuan pembelajaran terutama di sekolah atau di lembaga pendidikan umumnya membutuhkan inovasi agar dapat berkembang sesuai dengan dinamika kehidupan.
Berdasarkan latarbelakang di atas, maka pendidikan harus tetap dilaksanakan seefektif dan efisien mungkin walaupun ditengah Pandemi COVID 19, hal ini dikarenakan pendidikan merupakan komponen penting dalam kehidupan. Pendidikan merupakan penyangga keberlangsungan masa depan bangsa. Para peserta didik yang sekarang Learning From Home adalah generasi muda bangsa, yang nantinya akan memimpin dan membawa bangsa ini, sehingga harus dipersiapkan seoptimal mungkin walaupun ditengah Pandemi COVID 19. Oleh karenanya Tim Pengabdian dari PGSD FKIP UNS hendak berpartisipasi dalam penanganan dan meminimalisir dampak yang di akibatkan oleh COVID 19 khususnya dalam bidang pendidikan melalaui Pelatihan Pembelajaran Daring Inovatif (PPDI).

Posted in Kolom Pendidikan | Comments Off on PEMBELAJARAN DI TENGAH PANDEMI

WORKSHOP PENGEMBANGAN LITERASI MATEMATIKA PADA ASPEK PEMBIASAAN DAN PEMBELAJARAN BAGI GURU SD KECAMATAN GIRIMARTO, KABUPETAN WONOGIRI

Oleh
Dr. Riyadi, M.Si, Dr. Peduk Rintayati, M.Pd, Dra. Siti Kamsiyati, M.Pd, Anesa Surya, M.Pd, Dr. Sandra Bayu K, M.Pd

Literasi merupakan salah satu unsur yang dinilai dalam PISA. Hasil PISA menunjukkan bahwa peserta didik Indonesia memiliki kemampuan literasi matematika yang rendah. Hasil penelitian ini relevan dengan penelitian sebelumnya yang dilaksanakan oleh peneliti, bahwa literasi matematika peserta didik sekolah dasar rendah.
Bukti empiris tentang rendahnya literasi matematis peserta didik, ditemui juga di SDN Semagarduwur Kecamatan Girimarto Kabupaten Wonogri. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru dan peserta didik, diperoleh informasi bahwa peserta didik nilai ulangan matematika peserta didik masih rendah. Hal tersebut terjadi akibat belum terlaksananya program literasi matematis di sekolah. Program literasi yang dilaksanakan di sekolah hanya sebatas literasi baca. Guru hanya menerapkan budaya membaca 15 menit sebelum pembelajaran, namun kurang memperhatikan pembiasaan peserta didik dalam literasi matematis.
Upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut yaitu dengan diadakannya pelatihan pengembangan literasi matematika sekolah dasar. Pengembangan literasi matematika terdiri dari pembiasaan dan pembelajaran berbasis literasi matematika. Pembiasaaan meliputi kegiatan rutin sedangkan pembelajaran melibatkan pendekatan student center learning. Selain itu dalam proses pembelajaran guru juga dapat mengembangkan media pembelajaran yang konkrit 3D dan berbasis teknologi. Penilaian dapat dikemabngakan sesuai dengan standart PISA.
Kegiatan pengabdian terdiri dari 3 tahap yaitu tahap pra latihan, tahap pelaksanaan dan tahap evaluasi program. Kegiatan yang dilakukan pada tahap pra latihan adalah need analysis dan menyiapkan instrument pelatihan. Kegiatan pelaksanaan program terdiri dari 3 tahapan yaitu 1) Pemaparan ahli tentang literasi matematika 2) Perencanaan dan penyusunan pembiasaan dan pembelajaran yang dapat mengembangkan literasi matematika 3) Pemberian feed back tentang pengembangan literasi matematika melalui tahap peer-correction. Kegiatan yang dilakukan pada evaluasi program meliputi pendampingan penerapan pembiasaan dan pembelajaran yang dapat mengembangkan literasi matematika peserta didik sekolah dasar.
Hasil pengabdiani menunjukkan bahwa guru mampu merancang program pembiasaan dan pemngambangan literasi matematika melalui model pembelajaran yang inovatif, kreatif dan menyenangkan.

Posted in Kolom Pendidikan | Comments Off on WORKSHOP PENGEMBANGAN LITERASI MATEMATIKA PADA ASPEK PEMBIASAAN DAN PEMBELAJARAN BAGI GURU SD KECAMATAN GIRIMARTO, KABUPETAN WONOGIRI