Subject Spesific Paedagogic Berbasis HOTs

Karya Siti Istiyati,M.Pd dan Drs. Kartono, M.Pd

Pencapaian hasil pembelajaran yang optimal dan terbentuk siswa yang aktif, kreatif, inovatif, mampu berpikir tingkat tinggi serta memecahkan masalah membutuhkan guru yang kreatif dan inovatif yang selalu mempunyai keinginan untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu proses belajar mengajar di kelas, karena dengan peningkatkan mutu proses belajar mengajar di kelas, mutu pendidikan dapat ditingkatkan. Oleh karena itu, upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu proses belajar mengajar harus selalu dilakukan.
Jika hasil belajar siswa rendah maka akan berakibat langsung pada kualitas pendidikan di Indonesia. Berdasarkan Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan, guru memiliki peran yang strategis dalam bidang pendidikan, jika guru-guru yang berkualitas dan profesional kurang maka peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia sulit untuk terwujud dengan kata lain, guru merupakan ujung tombak dalam upaya peningkatan kualitas layanan dan hasil pendidikan. Untuk itu peningkatan kualitas pendidikan harus dilakukan melalui upaya peningkatan kualitas kompetensi paedagogik dan profesionalisme guru.
Sadar akan kualitas pembelajaran di Indonesia yang belum dapat memfasilitasi kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS) para siswa, maka banyak upaya telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk melakukan perbaikan. Upaya-upaya tersebut di antaranya melakukan perubahan atau revisi kurikulum secara berkesinambungan, program kemitraan antara sekolah dengan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), proyek peningkatan kualifikasi guru, dan masih banyak program lain yang dilakukan untuk perbaikan hasil pendidikan tersebut.
Terkait dengan konteks pendidikan yang mengarah pada berbagai ide tentang reformasi yang dikaitkan dengan strategi yang mendukung proses berpikir tingkat tinggi menempati porsi yang substansial untuk diajarkan di kelas. Hal ini dikarenakan Higher Order Thingking Skill (HOTS) merupakan pondasi dalam pembelajaran sesuai hakikatnya, yakni proses (process), produk (products) dan sikap (attitudes). Dengan demikian, sesuai hakikatnya pembelajaran idealnya mengacu pada kegiatan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik dapat memberdayakan potensi berpikir mereka secara maksimal. Melalui pembelajaran yang berbasis berpikir tingkat tinggi (HOTS) diharapkan siswa menjadi lebih kritis, kreatif, inovatif dan mampu memecahkan masalah sesuai dengan tuntutan abad 21.

Untuk mengatasi belum maksimalnya pembelajaran yang dilakukan guru, perlu dilakukan kegiatan yang mampu memfasilitasi guru melakukan kajian terhadap perangkat pembelajaran (subject spesific paedagogik) yang terdiri dari rencana pembelajaran, media, materi, lembar kerja siswa dan instrumen penilaian apakah sudah memfasilitasi HOTS para siswa? pemaduan prinsip HOTS dalam menyusunan subject spesific paedagogik (SSP) yang sesuai dengan kurikulum 2013 dapat dilakukan melalui kegiatan workshop. SSP merupakan perangkat pembelajaran lengkap yang terdiri dari rencana pembelajaran (RPP), materi pembelajaran, media pembelajaran, lembar kerja siswa atau kelompok, dan instrumen penilaian.
Upaya-upaya telah dilakukan secara intensif, tetapi pengemasan pendidikan sering tidak sejalan dengan hakikat belajar dan pembelajaran. Praktik-praktik pembelajaran hanya dapat diubah melalui identifikasi terhadap cara-cara guru belajar dan mengajar serta menganalisis dampaknya terhadap perolehan belajar siswa. Agar hal ini terjadi, sekolah perlu menciptakan suatu proses yang mampu memfasilitasi para guru untuk melakukan kajian terhadap materi pembelajaran, model dan metode pembelajaran, serta strategi-strategi mengajar secara sistematis, sehingga dapat memfasilitasi siswa untuk meningkatkan perolehan belajar.
Program-program atau model-model pengembangan profesionalisme guru membutuhkan fasilitas yang dapat memberi peluang kepada mereka learning how to learn dan to learn about teaching. Model pembinaan yang dapat mengembangkan dan meningkatkan profesionalisme pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegialitas dan mutual learning untuk membangun learning community dikenal dengan Lesson study (LS). LS dilaksanakan dalam tiga tahapan, yaitu merencanakan (plan), melaksanakan (do), dan merefleksi (see) secara terus menerus dan berkelanjutan. Implementasi lesson study secara berkelanjutan membantu guru mempercepat peningkatan kompetensi paedagogik dan profesionalismenya. Saat ini di sekolah dasar menggunakan kurikulum 2013 yang berbasis tematik dengan mengedepankan pendekatan scientific dan adapula SD yang masih menggunakan kurikulum KTSP. Meskipun demikian, guru-guru SD dituntut untuk segera menyelaraskan dan meningkatkan kemampuan profesionalismenya dalam mengajar terutama mengimplementasikan pembelajaran yang dapat memfasilitasi berpikir tingkat tinggi siswanya. Melalui kegiatan LS diharapkan guru-guru yang sudah mengikuti pelatihan implementasi kurikulum 2013 dan guru yang sudah mengikuti pelatihan tentang implementasi pembelajaran berbasis HOTS yang diselenggarakan oleh LPPM, Dinas Pendidikan serta lembaga yang berkonsentrasi dalam meningkatkan profesionalisme guru seperti USAID Prioritas diharapkan dapat melakukan pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegialitas kepada guru-guru yang lain melalui kegiatan LS.
Indikator-indikator peningkatan profesionalisme guru melalui pelaksanaan lesson study dapat dilakukan melalui pengembangan perangkat pembelajaran (SSP) yang mengimplementasikan pembelajaran HOTS. LS terdiri dari siklus plan-do-see yang memungkinkan guru untuk dapat mengembangkan pemikiran kritis dan kreatif tentang belajar dan pembelajaran, proses sharing pengalaman berbasis pengamatan pembelajaran memberi peluang bagi guru untuk mengembangkan keterbukaan dan peningkatan kompetensi sosialnya, dan proses-proses refleksi secara berkelanjutan merupakan suatu proses bagi guru untuk meningkatkan kesadaran akan keterbatasan dirinya.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan pada tanggal 24 Januari 2018 pada 2 orang kepala sekolah (SD Negeri Mangkubumen Kulon 83 Surakarta dan SD Negeri Purwotomo Surakarta) diperoleh hasil bahwa pengetahuan dan kemampuan guru untuk menyusun subject spesific paedagogik (SSP) atau perangkat pembelajaran yang memfasilitasi berpikir tingkat tinggi bagi siswanya masih rendah. Dari 40 orang guru yang di 2 sekolah tersebut hanya 2 orang guru (5,7%) yang sudah mendapatkan pelatihan tentang pembelajaran berbasis HOTS, 12 (34,3%) orang sudah mengetahui namun belum pernah mengimplementasikan dan 23 (65,7%) orang guru yang masih belum mengetahui, belum pernah mengikuti pelatihan/workshop apalagi mengimplementasikan pembelajaran berbasis HOTS.
Agar proses penyelarasan kemampuan tentang pembelajaran tematik pada semua guru mitra dapat berlangsung dengan cepat, maka diperlukan suatu model pembinaan antar teman sejawat melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegialitas untuk berkolaborasi dan merancang lesson (pembelajaran) dan mengevaluasi kesuksesan strategi-strategi mengajar yang telah diterapkan antara guru yang sudah memahami pembelajaran yang memfasilitasi HOTS dengan guru yang masih kurang sebagai upaya meningkatkan proses dan perolehan belajar siswa.
Lesson Study (LS) merupakan salah satu strategi pengembangan profesi guru dengan prinsip mengembangkan pembelajaran secara bersama-sama, salah seorang guru ditugasi melaksanakan pembelajaran, guru lainnya mengamati belajar siswa. Proses ini dilaksanakan selama pembelajaran berlangsung. Pada akhir kegiatan, guru-guru berkumpul dan melakukan tanya jawab tentang pembelajaran yang dilakukan, merevisi dan menyusun pembelajaran berikutnya berdasarkan hasil diskusi.
Permasalahan rendahnya kemampuan guru tersebut harus segera diatasi, karena begitu pentingnya keterampilan guru dalam menyampaikan materi ajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum. Berdasarkan Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan guru memiliki peran yang strategis dalam bidang pendidikan, jika guru-guru yang berkualitas dan profesional kurang maka peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia sulit untuk terwujud. Guru merupakan ujung tombak dalam upaya peningkatan kualitas layanan dan hasil pendidikan, untuk itu peningkatan kualitas pendidikan harus dilakukan melalui upaya peningkatan kompetensi paedagogik dan profesionalisme guru.
Namun kenyataannya menunjukkan bahwa belum semua guru di SD Mitra yang memahami, mengerti dan melaksanakan pembelajaran yang memfasilitasi HOTS dan berbasis kurikulum 2013. Hal ini antara lain disebabkan karena belum semua guru dapat mengikuti pelatihan implementasi kurikulum 2013. Menyikapi kurikulum yang baru ini, guru-guru SD dituntut untuk segera menyelaraskan dan meningkatkan kemampuan profesionalismenya dalam mengajar. Melalui kegiatan LS diharapkan guru-guru yang sudah mengikuti pelatihan implementasi kurikulum 2013 dan pernah mengikuti pelatihan model pembelajaran berbasis HOTS dibantu tim IPM dan sudah mengetahui, memahami, serta melaksanakan pembelajaran di kelasnya dapat melakukan pembinaan melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas kepada guru-guru yang lain melalui kegiatan LS.
Berbagai upaya telah dilakukan pihak sekolah guna meningkatkan pemahaman dan kemampuan guru tentang pembelajaran yang memfasilitasi HOTS yang sesuai dengan kurikulum 2013 guna menyiapkan siswa di abad 21, diantaranya dengan mengirimkan guru-guru untuk mengikuti pelatihan dan mendatangkan narasumber. Namun berbagai upaya yang telah dilakukan pihak sekolah belum menampakkan hasil yang optimal, hal ini dikarenakan pelatihan-pelatihan yang diberikan belum menyentuh pada kegiatan praktik langsung (mengimplementasikan) atau melihat contoh pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran berorientasi HOTS dan berbasis kurikulum 2013 secara langsung (guru model) sehingga guru-guru akan lebih jelas dan mengerti. Upaya lain yang dirasa dapat meningkatkan kompetensi guru bidang profisional dan paedagogil yaitu dengan menggabungkan workshop penyusunan perangkat pembelajaran (SSP) hingga mengimplementasikannya di kelas melalui kegiatan LS.

This entry was posted in Kolom Pendidikan. Bookmark the permalink.