ETIKA BERPAKAIAN MAHASISWA DI LINGKUNGAN PENDIDIKAN

Pakaian merupakan salah satu kebutuhan manusia, di samping kebutuhan pangan dan papan. Manfaat berpakaian diantaranya juga menyangkut kesehatan, kesopanan, dan keindahan. Sebetulnya masih banyak kegunaaan berpakaian dalam kehidupan, tinggal dipandang dari mana orang melihatnya.

Masalah dunia berpakaian sebenarnya merupakan hak seseorang. Namun, di dalam bersekolah atau berkuliah ataupun bermasyarakathal tersebut perlu juga menyesuaikan dengan lingkungan dan atau kelompoknya, misalnya lingkungan PGSD/PG-PAUD. Mahasiswa PGSD/PG-PAUD merupakan calon guru atau pendidik, yang diharapkan oleh semua pihak kelak menjadi tokoh dan anutan masyarakat sekitarnya. Oleh karena itu, mahasiswa tersebut perlu belajar untuk menuju kea rah tersebut. Megapa demikian?

Guru merupakan seorang pamong. Pamong tersebut harus memiliki jiwa dan semboyann “ Ing ngarsa sung tuladha”. Artinya, apabila guru berada di depan (masyarakat) harus bias menjadi dan member contoh, ia harus bertindak bijaksana, menjadi anutan masyarakat, adil dan dapat menunjukkan kemampuannya kepada masyarakat. Semboyan yang kedua “ing madya mangun karsa”. Artinya, apabila guru berada di tengah-tengah masyarakat, ia harus dapat menciptakan dedikasi yang tinggi, kemauan, semangat, kreasi dan kerja keras. Semboyan yang ketiga “Tut wuri hndayani”. Artinya, apabila guru itu ada dibelakang (menjadi anggota masyarakat biasa) harus mempunyai pengaruh yang berguna bagi masyarakat, memiliki kemampuan / kekuatan diri yang sewaktu-waktu dapat disumbangkan kepada sesama apabila diminta atau dikehendaki oleh mereka.

Dari gambaran di atas, dapat dipetik manfaatnya sebagai calon guru atau pendidik. Salah satu manfaat tersebut, mahasiswa dapat menerapkan bagaimana cara berpakaian yang sopan dan rapi. Berpakaian sopan menyangkut etika, dan rapi menyangkut keindahan. Kedua hal (berpakaian saopa dan rapi) tersevut apabila dijalankan secara tulus ikhlas merupakn modal utama didalam keteladanan sebagai seorang calon guru atau pendidik. Kelak bila sudah trjun dimasyarakat hal tersebut akan menjadi anutan para siswa termasuk masyarakat sekitarnya.

Berbicara mengenai etika berpakaian dilingkungan pendidik atau guru itu penting. Masalahya menyangkut harkat dan martabat seorang guru. Oleh karena itu, mahasiswa ketika masih di kancah: “ Carndradimuka” PGSD/PGPAUD perlu di godong atau dimatagkan tentang etika berpakaian. Dilingkungan pendidikan/PGSD/PD PAUD yang tugasnya memproduk guru (SD/TK/PAUD). Kata ‘’gutu’’ yang oleh masyarakat banyak sering diberi arti “digugu dan ditiru” harus dikembangkan, dibudibaya, atau dijaga agar makna tersebut benar-benar sesuai dengan realitas yang sebenarnya. Budaya berbapakian para mahasiswa PGSD/PG PAUD selama ini cukup bagus , bahkan setiap kelas telah menciptakan kreasisendiri-sendiri dalam berseragam batik. Siluar hari-hari tertentu yang arus mengunakan berpakaian seragam atas putih bawah hitam. Stiap kelas memiliki corak dan motif batik yang berwarna-warni. Ada yang bermotif bunga, anak panah, corak lengkung , dsb. Disamping ada yang berwarna coklat, hijau, biru, dsb yang dipadu dengan bawah gelap menambahkeindahan bagi pemakainnya. Hal tersebut menunjukkan diri bahwa para mahasiswa telah maju satu langkah tentang cara berpakaian sopan dan rapi. Kebiasaan ini perlu dijaga dan dilestarikan keberadaannya.

Dalam kenyataan sehari-hari, walaupun mahasiswa sudah membiasakan sedemikian rupa, tetapi masih ada satu atau dua oknum mahasiswaterrmassuk teman mainnya ( bukan mahasiswa PGSD / PG-PAUD ) ketika dating ke kampus mengenakan pakaian lain,seperti bercelana “ jeans” , mengenakan kaos tanpa “kerah leher” , memakai sandal “jepit” dsb. Hal kecil-kecil tersebut perlu di ingatkan dan dilarang sedini mungkin, agar tidak menular pada yang lainnya. Oleh karena itu, perlu penegakkan tata tertib berpakaian di kampus. Di samping itu juga kebiasaan merokok bagi semua penghuni kampus juag perlu dilarang bahkan harus diikuti peraturan yang tegas .

Kasus seperti diatas Alhamdulillah sekarang ini sudah jarang terjadi, itu hya oknum-oknum tertentu saja. Yang penting kita sebagai warga kampus PGSD/PG PAUD harus memiliki komitmen bersama bahwa hal tersebut melanggar tata tertib yang ada dan kita harus membiasakan diri untuk tertib. Apalagi mahasiswa bias melepaskan kebiasaan buruk itu, kedepan akan bisa memnjunjung tinggi semboyan “ Ing ngarso sung tulodho, Ing madyo mangun karso, Tut wuri handayani”. Semoga !

Amiin. Semoga saja harapan tersebut dapat terwujud dan semoga dengan bertambahnya pengetahuan kita dapat membimbing langakah kita kearah yang lebih baik. Memberi kesadari kesadaran akan pentingnya berbusana.


About pgsd